Pejabat Negeri ini sebaiknya sekolah di Candradimuka

Juni 18, 2012

bpic: rudyao@deviantart

Gatutkaca satria Pringgadani, sebelum kelak menjadi pemimpin, oleh para dewa digulawentah atau semacam disekolahkan ke kawah Candradimuka. Tentu tidak perlu bayar uang gedung, uang ekstrakurikuler, uang buku, uang seragam, uang badge, yang jumlahnya ndak bisa dibayangkan sebelumnya. “Jutaan rupiah!” Ya, karena Candradimuka memang disiapkan untuk mendadar calon pemimpin dan bukan ‘perusahaan’ calon pemimpin.

Tidak! Karena para dewa tahu, ia akan ‘mencetak’ manusia yang berakal budi luhur dan berjiwa kesatria. Meski tidak mengenal konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang juga tertuang dalam UUD 45, para dewa ini sadar, bahwa pendadaran Jabang Tetuka, tidak saja membuatnya menjadi manusia yang kuat, yang mampu mengalahkan Patih Sekipu yang deksia. Tetapi juga membuat Tetuka menjadi manusia cerdas dan berbudi luhur. Pendek kata, Tetuka berhasil menjadi manusia (kesatria) yang sempurna, berkat dadaran para dewa yang dipimpin Batara Narada.

Namun sekuat-kuatnya Tetuka atau Gatutkaca, ia punya titik kelemahan. Dan disanalah takdirnya ditentukan oleh sang Dewa. Gatutkaca harus tewas di tangan Karna. Karena ditangan Karna, tersimpan keris yang warangkanya berada di pusar Gatutkaca. Saat perang Baratayudha itulah antara keris dan kerangkanya menyatu di tubuh Gatutkaca. Gatutkaca pun gugur sebagai satria.

Kawah Candradimuka telah menjadi simbul proses pendidikan/pendadaran diri bagi mereka yang akan melakukan tugas berat sebagai kesatria atau pemimpin. Gatutkaca memang oleh para dewa dipersiapkan untuk menjadi pemimpin sekaligus pahlawan bagi negerinya Amarta dan keluarganya Pandawa.

Menjadi pemimpin memang tidak hanya bermodal uang dan otot. Tetapi juga keprigelan (kepandaian dan ketrampilan) dalam memanajemen negerinya. Sebagai pemimpin selayaknya dipersiapkan secara matang dengan proses yang tidak instant. Menjadi pemimpin tidak sekedar punya karisma, tetapi di zaman modern seperti ini juga perlu punya wawasan (intelektual) yang layak.

Dari sini kita melihat, negeri kita –bukan Amarta maupun Astina- ini punya kecenderungan, bernafsu menjadi pemimpin hanya bermodal kekayaan, dan tentunya kekuatan otot. Mereka yang didukung banyak orang –meski otaknya kosong- dianggap yang mampu dan bisa memimpin. Kwalitas tidak penting. Yang terpenting adalah pendukung.

Jangan heran kalau menjadi pemimpin saat ini tidak beda jauh dengan pemilihan penyanyi popular di TV-TV. Ganteng, cantik, bisa membuat ibu-ibu dan remaja kesengsem, menangis, tidak perduli mereka tidak bisa membaca partitur, dan suaranya pas-pasan.

Begitupula, kini kita punya kecenderungan memilih pemimpin seperti ini, ‘pokoknya lolos konvensi, didukung banyak orang, berkarisma, membuat adrenalin pendukung naik, dan tidak perduli omongnya omong kosong dari otak yang kosong pula.’

Kita telah terjebak dalam politik citraan. Sebuah politik yang hanya memamerkan kulitnya saja. Tidak ada esensi. Yang terpenting eksistensi citranya. Tak beda jauh dengan iming-iming label Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Embel-embel internasional, membuat wali murid ngiler. Tidak peduli harus bayar berapa dan tidak peduli apakah nanti anaknya juga bertaraf internasional atau tidak. Yang penting –demi gengsi- anaknya sekolah yang bertaraf (sering dipelesetkan, bertarif, pen) internasional.

Padahal hemat saya, RSBI atau kemudian juga SBI, tak lain politik citraan di lembaga pendidikan kita. Sekolah yang seharusnya menjadi kawah Candradimuka kini malah berfungsi menjadi semacam mesin pencitraan. Tugasnya hanya membuat sesuatu yang seolah-olah berstandar internasional. Sebut saja karena bukunya dari Singapura, bahasa pengantarnya bahasa Inggris, kurikulumnya mengadopsi kurikulum University of Cambridge, dan nanti lulusannya bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hmmm…dari sekian ratus siswa yang ada di Sumenep, Ngawi, Trenggalek, Pacitan, atau bahkan Surabaya, misalnya, ada berapa siswa yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri?

Jika Depdiknas tidak memiliki data statistik tentang hal ini mengapa tiba-tiba timbul kebijakan untuk mengubah sekolah-sekolah kita menjadi SBI yang berkiblat pada Cambridge? Untuk apa kita mengerahkan seluruh energi dan kapasitas kita membawa siswa menuju ke sistem Cambridge, kalau semua itu justru mengasingkan siswa dari realitas sosialnya?

Kok sepertinya sekolah hanya bertugas menata maneqin (boneka mode) di etalase. Tidak perduli maneqin-maneqin itu boneka lawas, cuman didandani dengan baju-baju mode terbaru, agar diakui masyarakat internasional? Sungguh naif bukan?

Tetuka adalah manusia sempurna. Dan arah pendidikan kita sebenarnya memanusiakan anak didik untuk menuju manusia sempurna sebagaimana yang diidealisasikan oleh tujuan pendidikan nasional.

Kenyataannya, sampai saat ini, pendidikan di Indonesia dinilai masih belum berhasil untuk mewujudkan kepentingannya, memanusiakan manusia. Selain gagal melaksanakan proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), sistem pendidikan di Indonesia juga gagal membentuk watak peserta didiknya.

Padahal jauh hari sebelumnya Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan kita tentang hakekat pendidikan. Menurutnya,� pendidikan merupakan tonggak berdirinya sebuah bangsa yang besar, berdaulat, berharkat, dan bermartabat. Pendidikan bertujuan menanamkan nilai-nilai hidup rukun dan damai di antara semua elemen bangsa, tanpa memandang kelas apapun. Namun kenyataannya sekarang jurang menganga malah semakin jelas.

Paulo Freire, dalam konsep pendidikan, memperjuangkan masyarakat yang mampu berpikiran kritis. Pendidikan tidak lain adalah proses memanusiakan manusia kembali setelah mereka mendapat penindasan, hegemoni, maupun kepentingan-kepentingan politis tertentu yang menyebabkan masyarakat terasing dari realitas lingkungan tempat mereka tinggal dan berinteraksi.

Persis seperti ketika Tetuka usai mengalahkan Patih Sekipu, Kresna dan Arjuna datang, meminta, agar Tetuka tidak lagi menggunakan taringnya. Kresna membebaskan Tetuka menjadi bangsa raksasa. Kresna menjadikan Tetuka sebagai manusia biasa. Sebagai satria yang menggunakan akal budinya untuk hidup.

Dan kini pendidikan kita sedang tercengkeram dalam taring kapitalisme global. Mau tidak mau kita harus melepaskan taring itu, agar pendidikan kita tidak terjebak dalam materialisme belaka, dimana sekolah hanya ditampakan pada fisiknya belaka, dan menghiraukan prosesnya.

Negara Mayoritas Islam

Januari 6, 2012

Sungai yang mengalir dan bermuara ke laut tersebut merupakan wadah tersendiri dengan berbagai sifat dan kerateristik untuk mengalirkan Air (yang juga mempunyai sifat dan kerateristik tersendiri)  ke Laut

Kalau Islam bagaikan Lautan yang sangat luas tak bertepi , maka  sungai ibarat aliran- aliran dalam Islam dan Air itu sendiri adalah Ummatnya

Aliran- aliran yang sesat diibaratkan sungai yang mengalirkan Air tetapi tak kunjung bermuara ke laut, mungkin karena kekeringan atau mendapat hambatan lainnya atau dibendung dan membentuk suatu waduk tersendiri.

Adakah masing Air di sungai itu mempertentangkan sungai lain tentang cara mengalirkan airnya ke laut???, tetapi yang pasti bahwa Air dalam sungai yang sama , tidak mempertentang dirinya atau sesama air , mereka mengalir apa adanya sesuai sifat dan kerateristik sungai tersebut dengan perkataan lain bahwa air mengalir tidak berdasarkan kerateristik Air yang berbeda tersebut. Contoh , Ada batu besar ditengah sungai , apakah Air yang berbau melewatinya dengan cara meloncati batu tersebut, Apakah Air yang jernih berbelok kekanan atau apakah Air yang bercampur lumpur berbelok kekiri???

Manusia khususnya yang mempunyai sifat ektrim mempertentangkan sesamannya (Manusia) yang tidak sealiran, malah ada diantaranya ,kadang mempertentangkan cara/ keinginannya dengan sesamanya walaupun sealiran… dan lebih gila lagi ada yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain…. Kenapa….kenapa…????

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba melihat contoh logika dibawah ini sebagai berikut:
Saya, Anda, teman saya , teman anda dan siapa saja yang membaca tulisan ini ibarat murid murid (siswa/mahasiswa)  yang akan menempuh suatu ujian tertulis dengan 100 soal yang harus dijawab dalam waktu 100 menit. dan setelah 100 menit , semua kertas jawaban dikumpulkan dan diperiksa oleh Guru untuk menetapkan hasil nya yaitu Lulus atau Tidak Lulus (batas kelulusan yaitu 60 jawaban benar dan tingkat kelulusan ditetapkan sebagai berikut : kalau benar 100 -91 disebut Lulus istimewa, 90-81 : lulus sangat Baik, 80-71 : Lulus Baik, 70-61: lulus cukup baik, 60: hampir tidak lulus, 59-50: Hampir lulus , 49-0 Tidak lulus) .
Dua soal dari seratus soal adalah :
1. Berapakah hasilnya 3 kali 3 ???
2. Bagaimanakah mendapatkan angka 9 dengan menggunakan angka nol (o) sampai sembilan (9)  ???

Masing masing murid menghadapi ujian tersebut mempunyai sifat dan kerateristik yang berbeda2 , diantaranya :

  1. Ada yang menyelesaikan terlebih dahulu soal yang gampang kemudian soal yang sulit.
  2. Tetapi ada juga sebaliknya
  3. Ada yang berusaha menyontek teman murid lainnya dan
  4. Ada pula yang berdebat tentang jawaban beberapa soal sementara ujian berlangsung.
  5. Dan lebih gila lagi, ada yang berdebat tentang kebenaran jawaban 2 contoh soal tersebut diatas setelah kertas jawaban dikumpulkan.

Seandainya Saya, teman saya, Anda dan teman Anda serta semua yang membaca tulisan ini dapat berkumpul disatu tempat , saya akan mengatakan :

  • Contoh soal yang pertama (3 kali 3 ) mempunyai satu nilai kebenaran kebenaran pada Ujian ini ada pada Guru , tetapi kebenaran yang hak ada pada Tuhan Maha Mengetahui
  • Contoh soal yang kedua adalah “Jawabanku adalah Saya dan Jawabanmu adalah Kamu”
  • Sifat Manusia yang bijaksana adalah sifat yang pertama yaitu ” menyelesaikan terlebih dahulu soal yang gampang kemudian soal yang sulit”, yang lainnya tidak bijaksana dan tidak berguna
  • Yang menentukan kelulusan Adalah Guru , setelah memeriksa hasil jawan ujian.
  • Tidak peduli hasilnya pada ujian ini yaitu 60 (hampir tidak Lulus) atau 100 (istimewa) yang penting Lulus, dan berusaha lebih baik untuk ujian berikutnya dengan belajar lebih giat.

Kembali kepertanyaan Kenapa…kenapa ..???

  • Kenapa Negara Mayoritas Islam seperti Indonesia banyak sekali pelanggaran HAM ???
  • Kenapa dan berapa banyak rakyat terbunuh dan tertindas disektor Agraria/ perkebunan  dan Pertambangan tahun 2011 dan berapa pula yang Mati dan tergusur dari tempat tinggalnya , hanya semata mata kepentingan Investor ( Kenapa Pemerintah lebih mementingkan Investor dari pada rakyatnya ??)
  • Kenapa di Instansi/ Institusi sangat birokrasi??, harus ada ini, harus ada itu??, sampai2 mengeluarkan biaya jauh lebih banyak dari hasil yang akan dicapai. terkadang karena alasan birokrasi perkara yang mudah jadi sulit, yang ironisnya terkadang yang menjadii Haknya akhirnya tidak berHak…(sebenarnya Birokrasi itu baik-red)
  •  Kenapa seorang Polri menganiaya Anak dibawah umur hanya karena menuduh mengambil sendalnya???, Kenapa pengadilan palu menyatakan bersalah kepada anak tersebut???, dan kenapa pula Kapolri mendapat oleh2 1000 pasang sendal dari atas nama masyarakat/ Rakyat???

Kenapa ( Pemerintah/Penguasa/ seakan-akan tidak pernah memperhatikan kepentingan Rakyatnya) ?

  • Pemerintah menyatakan dirinnya sebagai Guru yang menentukan kebenaran  (lihat contoh diatas) , asalkan pekerjaannya sesuai prosedur (aturan, keputusan, Undang2) maka dianggapnya BENAR
  • Pemerintah/Penguasa/ dalam hal ini Pejabat (tinggi sampai rendahan) tidak pernah mau memikirkan/ menyelesaikan urusan yang gampang-gampang , “saya pernah mendengar Pejabat mengatakan Kalau urusan yang besar dan sulit itu urusan/ fikiran Atasan” , tetapi urusan yang kecil atau gampang-pun tidak juga difikirkan apalagi dilaksanakan oleh bawahan , mereka lebih senang melaksanakan instruksi atau perintah (malah kalau melaksanakan urusan yang kecil2 apalagi melanggar aturan pasti dianggap bersalah).
  • Pemerintah/penguasa lupa bahwa sebenarnya Republik / Negara ini adalah milik Rakyatnya , beliau hanyalah diberi Amanah untuk melaksanakan dan mengatur dan sekaligus melindungi ..

Dimana-mana terjadi perdebatan yang hanya disebabkan karena adanya perbedaan pendapat , yang tidak bisa diterima oleh yang lainnya,  dan kalau salah satunya memaksakan pendapatnya dan lainnya tidak menerimanya maka terjadilah pertikaian dan apabila penguasa yang memaksakan kehendaknya maka terjadilah penindasan

Seharusnya Pemerintah menyadari bahwa Negri ini Mayoritas Islam, dan Amanah yang diberikan kepada pejabat/ penguasa juga dari rakyatnya yang mayoritas Islam. dan paling tidak mempunyai  6 image dari 7 image negara yang ada dibawah ini.
Contoh Negara Singapore adala Negara yang mempunyai lingkungan terbersih dan tidak koruptor , Kalaupun ada orang koruptor di Singapore , pasti datangnya dari Negara lain.

Carilah padannya Negara vs Image

Negara

  1. Amerika Serikat
  2. Jepang
  3. Korea
  4. Taiwan
  5. Eropa
  6. Indonesia
  7. Singapore

Image

  1. Loyal
  2. Koruptor
  3. Bersih
  4. Ulet
  5. Hak Pribadi
  6. Disiplin
  7. Tegas

Penggusuran tempat tinggal sah-sah saja

Desember 4, 2011

Penggusuran tempat tinggal sah-sah saja

Tindakan penggusuran yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia menunjukkan tidak terlindunginya hak bertempat tinggal dan berusaha para korban  karena penggusuran itu dilakukan tanpa penyediaan tempat lain untuk bertempat tinggal atau tempat berusaha sebagai penggantinya. Baca entri selengkapnya »

Kekuasaan yang hilang

Desember 4, 2011

Pemerintah, Satpop PP, Masyarakat, Rakus , Kekuasaan, Rusuh, Anarki menjadi satu  dalam satu nusa dan satu bangsa.

Medio Mei 2010, telah terjadi anarkisme dalam arti yang sesunggunya yang memuncak pada hari Rabu, 14 April, di Koja, wilayah Tanjung Priok , Jakarta Utara. Massa yang marah dan kecewa, karena merasa tak diperlakukan secara manusiawi dan adil oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparat kepolisian yang bertindak represif atas nama pemerintah, mengamuk tanpa kendali. Baca entri selengkapnya »

Kaum Buruh

Desember 4, 2011
Pada tanggal, 1 Mei 2010, hari buruh internasional. Selama Orde Baru (orba) atau sejauh ini, hari buruh internasional kurang dirayakan atau bahkan tak dirayakan di Indonesia atau dirayakan dengan malu-malu dan rasa gamang karena dihubung-hubungkan dengan komunisme. Baca entri selengkapnya »

Bangsa Beradab

Desember 4, 2011

Bangsa Beradab
Amat kita sayangkan, sesuatu yang pernah terjadi di Tarakan, Kalimantan Timur ,konflik yang memancing sentimen etnis. Padahal asalmuasalnya hanyalah insiden kriminal biasa, tidak ada latar belakang sentimen etnis.
Dua kelompok etnis kembali pasang kuda-kuda siap-siap  bertarung. Peristiwa pahit di Sampit beberapa tahun silam hampir saja terulang kembali.
Kita bersyukur keadaan mereda. Melalui berbagai pendekatan, kedua kelompok mulai dapat ditenangkan. Harapan kita semoga keadaan benar-benar kembali dingin dan pulih sebagaimana sedia kala. Baca entri selengkapnya »

Orang Gila dan Koruptor

Desember 4, 2011

Seorang pria berbaju kumal, badannya dekil, rambutnya panjang awut-awutan, memanggul segala macam bawaan, tiap hari berjalan tidak tentu arah. Ia selalu mengoceh sendiri, bicara sendiri dan tertawa sendiri. Tapi ketika ia mengoceh atau tertawa seolah-olah dia sedang berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan ia sering amat serius bicara, seperti orang berpidato sambil mengacungacungkan telunjuk. Baca entri selengkapnya »

Wikileaks vs Indonesia

Maret 15, 2011

Wikileaks vs Indonesia

Dokumen Rahasia Terkait Indonesia di WikiLeaks dan berikut Rincian Bocoran Wikileaks :

Tak ada api, masakan ada asap: barang sesuatu yang terjadi mesti ada sebab
Kalau tak ada angin, takkan pohon bergoyang
Kalau tak berada-ada, masakan tempua bersarang rendah

Kalau tidak mau terbakar , janganlah bermain Api
Kalau tidak mau disakiti , janganlah menyakiti orang lain
Kalau Berani berbuat , harus berani juga bertanggung jawab.

selengkapnya lihat wikileaks Indonesia

Negeri bohong bohongan

Januari 18, 2011

Negeri bohong bohongan

Kasihan ya..!! Negeri kita, sudah  banyak istilah sejak 2 tahun terakhir ini, dan ironisnya istilah tersebut berasal dari rakyat-nya , masyarakat-nya yang sangat mencintai tanah airnya, bukan dari elit lawan politik pemerintah yang berkuasa, dan bukan juga orang2 yang dikucilkan oleh pemerintah tetapi betul-betul berasal dari ” Hati Nurani Anak Bangsa Indonesia “.

Tidak mungkinlah Anak bangsa ini menyatakan Negeri yang adil dan Makmur, Negeri Sejahtra dan sentosa, Negeri yang tentram dan Damai, Negeri yang berhasil dengan pembangunan atau Negeri apalah sesuai bahasa yang bersahaja dan bahasa wayang dalam kondisi negara seperti ini, tetapi mereka mengatakan Negeri Wayang, Negeri Aneh, Negeri Juara Peras Handuk, Negeri Poli-tikus (banyak tikus pengeratnya), Negeri Kelelawar, Republik yang sedang oleng , Negeri saling tuding, Negara Kekuasaan , Negeri Kanibal , Negeri Makalar, Negeri Barter , Jahiliyah, Negeri Tupai, Negeri berbudaya Dusta , Negeri Dusta , Indonesia Telmi …., malah akhir-akhir ini sangat terkenal dengan istilah Negeri bohong-bohongan.

Kasus Bank Century dengan menyibukan yang dipertuan para Anggota DPR ternyata bohong-bohongan, seorang karnikus model Gayus , koruptor pajak miliaran yang udah dipenjara bohong-bohongan, Bantuan Bencana Alam yang dijanjikan juga bohong-bohongan, jenderal yang akan membongkar kasus besar , terlibat atau dilibatkan dengan kasusnya akhirnya bungkam..membisu seribu bahasa..dan banyak lagi berita yang heboh tetapi bohong-bohongan.

Sangking Negaranya Bohong-bonhongan maka rakyatnya hanya bisa bingung , dan menurut berita Inilah 9 Kebohongan Baru Pemerintah  dan 18 Kebohongan Dibacakan di Depan SBY, Masalah inilah yang memicu kerisauan pemerintah, sehingga mengundang tokoh lintas agama.

Satu lagi kebohongan besar bahwa ” Gayus dihukum hanya” tujuh tahun penjara . Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin Andi Tumpa menganggap vonis tersebut merupakan upaya hakim agar Gayus masih bisa diperkarakan lagi dalam kasus berbeda” . Kalau kasus gayus sekarang 20 tahun penjara, kenapa harus 7 tahun, kan juga kalau seratus kasus lagi gayus toh juga dipenjara total 20tahun.
Kalau alasannya akan menjerat Gayus lainnya atau Peng-Gayus (yangsuka bermain dengan Gayus) , kan !! bisa menggunakan Bukti-bukti Nyata dalam Kasus Gayus.  jadi ternyata “Demi Keadilan dan Demi Hukum ” bisa juga diplintir dan bohong-bohongan. 

Suka atau tidak suka , benar atau salah, rekayasa atau realistis tetapi inilah yang terjadi dan merupakan cerminan kondisi Negeri ini dan mudah-mudahan kondisi ini juga bohong-bohongan.

Negeri Wayang

Desember 16, 2010

Negara ini tidak ada salahnya kalau disebut juga sebagai Negeri Wayang, karena hampir semua (99,99 %) yang namanya Pejabat Negara, Pusat, daerah sampai Kabupaten Kota maupun yang sangat terpincil di Desa atau Dusun berperilaku persis dengan wayang. Dan kalau mau diperinci lagi maka sifat atau krakter wayang ini dibedakan menjadi Wayang Orang, Wayang Golek, Wayang Kulit dan Wayang Perunggu.

Rakyatnya adalah penonton pertunjukan wayang terbesar di Dunia yang diperkirakan 200 juta lebih (termasuk penulis)  dikurangi sedikit (para pejabat), jadi masih mengalahkan pemirsa TV Nasional dan Swasta di Indonesia.

Coba simak berita – berita dibawah ini:

Pada Jaman dahulu kala, jauh sebelum perang BarataYuda, Konon …Pimpinan rapat paripurna “Para Kurawa” , mempersilakan kepada Menteri Dorna sebagai wakil pemerintah Dratista (Sebenarnya Raja Dratista yang diundang , hanya saja Raja yang satu ini Buta maka selalu mewakilkan kepada bawahannya ) untuk menyampaikan sambutannya, tetapi apa yang terjadi ???, sala-satu kurawa yang namanya Kurcaci meminta Menteri Dorna untuk turun dari Podium sebelum sang Menteri menyampaikan Pidatonya. Karena Menteri Dorna adalah tokoh wayang perunggu dengan perilaku tebal muka, maka tetap saja menyampaikan pidatonya
Dalam kesempatan tersebut Menteri dorna juga mengeluarkan statemen bahwa Keputusan Dewan Rakyat NgaYog baru2 ini tidak ada hubungannya dengan rencangan undang2 keistimewaan NgaYog….
“lho wong .. keputusan dewan rakyat ngayog  itukan aspirasi yakyat ngayog untuk antisipasi…gi..tu lho” kata kurcicak.
“Kagak tau sejarah kalii !!” sambung kurcaco, ” dasar wayang perunggu ” sela kurcici… ha… ha  riauh tawa para kurawa dan tepuk tangan para pemirsa.

Kurcaco adalah anak turunan kerajaan Medang pada zaman pra sejarah (konon khabarnya bahwa Yogyakarta sangat erat kaitannya dengan kerajaan Medang ) , sedangkan Kurcici adalah Nenek Moyang Mpu ahli perwayangan,

Baru2 ini ada polemik antara Demokrasi dengan Monarki, kemudian timbulah tanggapan macam2 ditambah dengan bumbu2 politik maka jadilah berita hangat megalahkan berita musibah bencana alam akibat gunung merapi maupun Tsunami

Menurut penulis bahwa berita wayang tersebut seharusnya tidak perlu ada, baik yang mengeluarkan pernyataan atau yang menginterpretasinya maupun yang menambah bumbu penyedap , anggaplah angin lalu saja , kalau tidak mau dicap sebagai mahluk yang krusial alias pengacau dan asbun (asal bunyi).

Demokrasi dalam arti sebenarnya , ada di DI Yogyakarta, dibandingkan di Provinsi lainnya yang ada mirip -mirip Demo(krasi) Anarkis.
Pada suatu waktu di Yogyakarta, terjadi pertikaian berdarah antara 2 suku dari Negri timur , kemudian sebagai Gubernur DI Yogya , Sri Sultan turun sendiri memanggil kedua kelompok suku yang bertikai tersebut dan Kata Sultan ” Apabila kedua suku mau melanjutkan pertikaian , silahkan keluar dari wilayah DI Yogyakarta alias pulang kampung, tetapi kalau mau berdamai mari kita bicarakan , yang salah tetap salah dan harus meminta maaf kepada yang benar dan yang benar harus memaaf kan yang salah, dan kelompok kamu berdua dapat melanjutkan tinggal disini” .
Sri Sultan sebagai penerus tahta kesultanan dapat saja menerapkan Hukum2 sistem Monarki kepada kedua suku tersebut, tetapi belaiu tidak menerapkannya , malah justru menerapkan sistem kepemimpinan Nabi Muhammad SAW  dalam menegakan Demokrasi , kalau benar menyatakan benar , kalau salah ya… salah… tidak ada unsur “Politik” ,  tidak peduli apakah terhadap golongan tertindas atau minoritas..tidak memplintir–alasan.

Kalau mau jujur ,para pejabat (kalau tidak mau disebut pejawat wayang) , seharusnya menohok atau menilik propinsi lain. Banyak sekali bermunculan raja-raja kecil yang dipilih dengan Slogan Demokrasi , tetapi setelah menjabat menerapkan sistem pemerintahan Monarki , ibarat “Kata kata Raja (Bupati dan lain sebagainya) dalah Hukum, Aturan walaupun tidak tertulis” mereka setelah menjabat  mengingkarai janji-janjinya (janji wayang) setelah terpilih

Lebih bijaksana lagi kalau sang pejabat tersebut menunjuk  ” DI Yogyakarta ” sebagai daerah percontohan , bahwa DIY sejak NKRI sampai sekarang,  Gubernurnya diangkat tidak melalui pemilihan, didalamnya berdiri kokoh suatu kesultanan tetapi pemerintahannya menganut sistem Demokrasi yang sebenar-benarnya demokrasi.

Penulis bukanlah seorang ahli tata negara , tetapi menurutnya bahwa salah satu Demokrasi model wayang yaitu keputusan yang diambil secara pemilihan apalagi dengan langsung suara terbanyak…
Penulis tidak pernah menjumpai kalimat dalam UUD 1945 bahwa penetapan atau sejenisnya harus melalui Proses Pemilihan , karena memang tidak pernah membacanya apalagi menghafalnya,  yang ada yaitu keputusan atau penetapan diambil berdasarkan musyawarah dan mufakat dan kalau keduanya tidak dapat dipenuhi barulah dilakukan secara pemilihan…suara terbanyak…
Era sekarang pemilihan / penetapan “Suara terbanyak” selalu ditunggangi Politik plus (uang, Janji, kecurangan ,dan lain lain) dan “Musyawarah” ,  “Mufakat”  adalah dua kata yang akan melegenda , seperti nasib temannya “Gotong Royong” (Dan kalimat yang sudah lama menjadi bahasa wayang yaitu ” Masyarakat Adil dan Makmur” )
Percaya atau tidak, bahwa sidang untuk musyawarah dan mufakat” jauh labih sedikit dibandingkan dengan sidang untuk membicarakan perbedaan / pendapat masing Fraksi, malah pernah ada yang mengatakan kalau pembahasan untuk mencapai musyawarah dan mufakat tidak perlu sidang, sukup telefon atau SMS saja, tetapi kalau sidang apalagi yang disiarkan langsung , maka kurang seru kalau tidak ada perbedaan pendapat, malah kalau perlu perbedaan pendapatnya dibuat-buat seperti waktu sidang paripurna yang menghasilkan Opsi A, Obsi B dan Bukan kedua2nya , yang diada-adakan pendapat ke empat yaitu yang setuju dengan Obsi A dan Opsi B… jadi ala sinetron wayang yang diatur oleh dalangnya saja…

Karena Negeri ini telah dikuasai oleh para pewayang maka tidaklah menutup kemungkinan bahwa Sri Sultan akan membawa Yogyakarta untuk mencari NKRI yang telah hilang….. mudah2an ini hanyalah sebuah dagelan dan dalangnya  karena kecapaian akhirnya tertidur dan para pemirsa juga tertidur dan mimpi di Negeri Wayang. 

            


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.