Pancasila

Juni 21, 2015

TEKS PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945 TENTANG PANCASILA

Hari ini 1 Juni 2012 kita memperingati Hari Lahirnya Pancasila. Penetapan tanggal ini mengacu pada pidato Soekarno sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, tepatnya 1 Juni 1945.

Sebagaimana diketahui, menjelang kekalahannya di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, dengan acara tunggal menjawab pertanyaan Ketua BPUPKI, Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, “Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?”

Hampir separuh anggota badan tersebut menyampaikan pandangan-pandangan dan pendapatnya. Namun belum ada satu pun yang memenuhi syarat suatu sistem filsafat dasar untuk di atasnya dibangun Indonesia Merdeka.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia Merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrokusumo, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad Soebardjo dan Muhammad Yamin) yang bertugas “merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tiu sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”

Demikianlah, lewat proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya Pancasila penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia Merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 (Diambil dari Pancasila Bung Karno, Paksi Bhinneka Tunggal Ika, 2005).

Inilah pidato yang bersejarah itu.

Paduka Tuan Ketua Yang Mulia!

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

Maaf beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan di dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah – dalam bahasa Belanda – Philosofische grondslag (dasar filosofi-Ed.) dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia. Tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada Tuan-Tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”.

“Merdeka” buat saya adalah political independence, politieke onafhankelijkheid (kemerdekaan politik, dalam bahasa Inggris dan Belanda-Ed.). Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang – saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini – zwaarwichtig (seolah-olah amat berat, dalam bahasa Belanda-Ed.) akan perkara-perkara kecil. Zwaarwichtig sampai – kata orang Jawa – jelimet (dengan teliti, rinci dan lengkap, dalam bahasa Jawa-Ed.). Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.

Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya! Alangkah bedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai sampai jelimet, maka saya bertanya kepada Tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80 persen dari rakyatnya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti akan hal ini atau itu.

Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkalah Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toh Saudi Arabia merdeka!

Lihatlah pula – jikalau Tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat – Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia adal rakyat Musyik (golongan yang percaya adanya Tuhan, tetapi tak menganut suatu agama-Ed.) yang lebih dari 80 persen tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, Tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini mau mendirikan Negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!

Maaf, Paduka Tuan Zimukyokutyoo (Kepala Kantor Tata Usaha untuk Lembaga Tinggi, dalam bahasa Jepang, yang berada di bawah pemerintah militer Jepang untuk mengurus persiapan sidang-sidang BPUPKI-Ed.)! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca Tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka… sampai di lubang kubur!

(Tepuk tangan riuh)

Dunia Tanpa Rokok, Mungkinkah?

Juni 21, 2015

Dunia Tanpa Rokok, Mungkinkah?

IKLAN rokok adalah iklan yang paling ambigu. Rokok selalu ditawarkan sebagai sesuatu yang paling hebat. Namun, pada saat yang sama, rokok diiklankan sebagai produk yang berbahaya. Di akhir iklan – baik di media massa cetak maupun elektronik – selalu ditulis: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”.

Kenyataannya, peringatan keras bernada intimidatif namun objektif itu tidak pernah digubris. Hampir 1 milyar laki-laki di dunia ini merokok. Di negara-negara maju, kaum pria perokok jumlahnya 35 persen dari populasi. Di negara-negara berkembang besarnya 50 persen dari populasi. Setiap hari, 250 juta wanita di seluruh dunia asyik merokok. Di negara-negara maju, besarnya 22 persen dari populasi. Di negara berkembang, besarnya 9 persen dari populasi.

100 Juta Kematian

Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa rokok adalah setan pencabut nyawa yang paling haus darah. Dalam buku The Tobacco Atlas terbitan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (2002), dilaporkan bahwa 50 persen perokok meninggal karena penyakit akibat rokok. Pada abad ke-20, ada 100 juta jiwa meninggal karena rokok. Menurut prediksi para ahli, jumlah kematian itu bisa berlipat 10 kali pada abad ke-21. Dengan demikian, merokok lebih berbahaya daripada virus HIV/AIDS, penyalahgunaan obat terlarang, kecelakaan lalu-lintas, maupun kejahatan (pembunuhan).

Menghentikan kebiasaan merokok adalah solusi untuk pengurangan angka kematian global. The Lancet, sebuah jurnal kesehatan di Inggris, menyatakan bahwa menurunkan jumlah perokok dunia hingga 20 persen sebelum tahun 2020 dapat menghindarkan 100 juta kematian akibat tembakau.

Indonesia Pro-Rokok?

Meskipun berbagai upaya pengurangan kebiasaan merokok dilakukan, masyarakat tetap saja merokok. Di Amerika Serikat, khususnya New York, telah dilakukan berbagai cara untuk menekan kebiasaan merokok. Walikota Michael Bloomberg dan Ketua Komisi Kesehatan Thomas Frieden melakukan usaha-usaha seperti menaikkan pajak, membatasi iklan, memperluas area bebas merokok, dan membantu terapi para pecandu rokok. Saat ini, harga sebungkus rokok di New York sudah lebih dari US $ 7 (sekitar Rp 63.000). Dengan berbagai kebijakan itu, jumlah perokok memang turun sampai 20 persen.

Tetapi, para pendatang baru di dunia berasap ini tetap terus bertambah setiap harinya.

Bagaimana dengan Indonesia? Hasil riset menunjukkan bahwa dua per tiga perokok di seluruh dunia adalah mereka yang tinggal di 15 negara yang berpendapatan menengah ke bawah. Separuh dari mereka tinggal di negara-negara Cina, India, Rusia, Bangladesh, dan Indonesia. Kita masuk dalam 5 besar pengguna tembakau dunia.

Sepertinya, Indonesia kurang bersikap dan bertindak tegas soal rokok. Pertama, pemerintah tidak berusaha membatasi dengan meningkatkan cukai yang tinggi. Cukai rokok di Indonesia terendah di kawasan Selatan-Timur Asia. Padahal, di Thailand bisa 60 persen, di India 70 persen, bahkan 75 persen di Nepal, Maldives, dan Myanmar.

Kedua, tidak ada pembatasan yang signifikan untuk pengiklanan produk rokok. Di Indonesia, iklan rokok justru merebak di berbagai media massa cetak dan elektronik. Di tempat-tempat umum, dari kota sampai pelosok pedesaan, iklan rokok mudah dijumpai. Di India, tidak boleh ada iklan rokok di media massa cetak dan elektronik. Poster dan baliho iklan rokok juga tidak boleh dipasang di pinggir jalan-jalan raya.

Ketiga, Indonesia telah menunda-nunda untuk ikut meratifikasi Framework Convention on Tobacco (FCTC). Ini merupakan konvensi internasional untuk pengendalian tembakau. Sampai pada awal tahun 2006 saja, 168 negara dan seluruh negara di ASEAN sudah ikut meratifikasi.

Bagi Indonesia, masalah rokok memang dilematis. Di satu sisi, pemberantasan rokok sangat berarti untuk menyehatkan bangsa dan membangun generasi baru. Di sisi lain, kalau rokok dikontrol terlalu ketat, pendapatan pemerintah dari cukai rokok menurun, banyak orang kehilangan pekerjaan, dan ekonomi makro pun terguncang. Siapa mau mengganti pendapatan negara dari rokok yang lebih dari Rp 30 triliun itu?

Konsep Hidup

Melenyapkan rokok sama sekali dari dunia ini rasanya hampir tidak mungkin. Industri rokok sudah menjadi bagian dan bahkan pilar penyangga dari sistem ekonomi. Perusahaan-perusahaan rokok semakin hari semakin kuat. Di Amerika Serikat, perusahaan rokok setidaknya mengalokasikan US $ 50 per konsumen tiap tahun untuk kepentingan iklan dan pemasaran di seantero negeri. Kecuali itu, merokok sudah sedemikian membudaya dalam kehidupan masyarakat.

Sejarah mencatat berbagai usaha keras telah ditempuh untuk memberantas budaya merokok. Ketika Sir Walter Releigh memperkenalkan tembakau di Eropa, penolakan keras datang dari para pemuka agama, bangsawan, dan cendekiawan. Para pengguna tembakau dianiaya di Rusia, dibunuh di Turki, dan dipenjarakan di Switzerland. Paus Urban VIII menentang keras. Raja James I dari Inggris memproklamirkan bahwa tembakau itu jahat karena merusak kesehatan otak, paru-paru, dan mata.

Pada dasarnya, kebiasaan merokok tidak bisa dihentikan begitu saja. Merokok adalah sebuah gaya hidup. Ada alasan-alasan kompleks mengapa seseorang menjadi perokok. Faktor ketagihan dan kenikmatan bukan satu-satunya alasan.

Karena itu, sangat tidak mudah untuk membujuk seseorang supaya berhenti merokok. Bahkan, sekalipun sudah jatuh sakit dan miskin, asap tembakau di mulut tetap terus mengepul.

Yang perlu dilakukan adalah penanaman nilai-nilai budaya sejak dini. Ini lebih dari sekedar pendidikan kesehatan dan pemberian pengetahuan tentang bahaya rokok. Ini harus merupakan penanaman filosofi kehidupan. Dulu, saat pertama kali orang Indian Huron mulai merokok, itu bukan karena ketagihan. Mereka merokok sebagai sebuah ritual untuk menghormati dewi kesuburan. Merokok adalah sebuah tindakan simbolik religius, bukan untuk merusak tubuh demi pemuasan hawa nafsu. Sekarang, rokok sudah diubah fungsinya untuk kenikmatan sesaat. Hal itu sama seperti seks.

Perilaku seks bebas mewabah karena orang modern tidak lagi mengkeramatkannya. Seks berubah fungsi menjadi komoditi bisnis kapitalistik dan gaya hidup rendahan yang hedonistik.

Sejak dini, anak-anak kita harus diajari tentang konsep kehidupan. Sebagai contoh adalah penanaman konsep bahwa tubuh adalah anugerah Tuhan. Merusak tubuh dengan cara apapun, meskipun itu menyenangkan, adalah dosa. Ketika filosofi ini tertanam kuat dan kemudian informasi ilmiah tentang bahaya merokok dibeberkan, anak-anak kita akan bisa mengambil keputusan untuk tidak merokok. Cara itu akan jauh lebih efektif daripada pemberian motivasi ekstrinsik dengan cara dipaksa-paksa, ditekan-tekan, dan diintimidasi ini dan itu. Sayangnya, pendidikan kita sekarang sering hanya bersifat pengetahuan (informatif) dan bukannya bersifat pembentukan watak dan kepribadian secara filosofis. q – m (1200-2007).*)

Demokrasi yang Indah

Juni 10, 2014

Kata Demokrasi yang Indah pertama saya dengar dari sala-satu capres 2014 yaitu Bapak Prabowo sewaktu debat Capres/Cawapres di balai sarbini tgl 09 Juni 2014 yang disiarkan oleh media  TV-One dan MetroTV.

Acara yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak pemirsa dinegeri ini terutama mereka yang tergolong/ kelompok pemilih.

Kedua media TV tersebut juga diramaikan oleh para komentatornya, tapi sayang sekali bahwa para komentator tersebut mencemari Demokrasi yang indah dengan sikap dan prilaku sirik..

Setelah dipikir-pikir.. wajarlah karena menurut kabarnya TV One milik ARB sedangkan MetroTV Milik SP. masing masing milik parta koalisi pendukung capresnya. Malah jauh sebelumnya debat ini berlangsung, pernah sala-satu petinggi / pendiri partai mengatakan bahwa pemilu 2014 ini ibarat “Perang Badar”… entah apa sebabnya beliau mengatakan demikian. Tetap yang jelas sepertinya suasana/ suhu politik  2014 di Negri ini mirip(tapi tidak sama) dengan Cerita / epos Mahabharata . Yang Mirip adalah sifat para pelakunya.

Demokrasi yang indah ini diawali dengan Membelotnya ARB (Pemimpin yang Unik), Ketua Partai Pemenang Pemilu Legislatif  No 2, yang sedianya mencalonkan diri sebagai Presiden tetapi karena bernyali Bukan Naga , kira2 seperti ular..lah yang jelas bukan Cacing) dpl Gugur sebelum Berkembang atau bahasa halusnya Kalah sebelum bertarung…, terpaksa memutatar haluan dan membawa partainya membelot (Memilih jalan lain) . Dampaknya bahwa banyak pendukung partainya akhirnya terpecah belah dan berhamburan… Pemimpin yang menyebabkan Bawahannya / anggotanya atau pendukungnya berhamburan adalah Pemimpin yang jarang sekali ditemukan di Dunia Ini. Sederhana sekali kalau mau dicari penyebabnya yaitu ingin tampil beda dengan YK.

Lebih lanjut HT yang pecah kongsi  juga menempuh jalan yang sama dengan ARB , HT membawa massanya dan MMC Groupnya bersama Artisnya sekalian. Begitu juga Romi cerai dengan MHM yang juga dialami oleh MMD yang menunggu lamaran yang tak kunjung tiba.

Sayang sekali Ketua Partai P3 yang juga pernah dicaci maki bawahan partainya , maksud hati ingin memasang kuda2, tetapi tuhan menghendaki lain yaitu memasang atribut tersangka korupsi uangnya Tuhan.

Kalau mereka (Bukan Capres/Cawapres) ditanya kenapa??, jawabanya seperti lagu Padamu Negri ” Memilih yang mempunyai VISI DAN MISI yang sama”.

Wahai Putra-Putri ku , ketahuilah bahwa Visi Republik ini tertuang dalam  Pembuakaan UUD 1945, sedangkan misinya dijabarkan dalam pasal-demi pasal. Oleh karena itu putra-putriku mungkin maksud beliau itu baik yang berdebat maupun komentatornya adalah strategi atau cara mencapai Misi . Stratgi boleh berbeda asalkan realistis , efektif dan efisien.

Bersambung

 

Pejabat Negeri ini sebaiknya sekolah di Candradimuka

Juni 18, 2012

bpic: rudyao@deviantart

Gatutkaca satria Pringgadani, sebelum kelak menjadi pemimpin, oleh para dewa digulawentah atau semacam disekolahkan ke kawah Candradimuka. Tentu tidak perlu bayar uang gedung, uang ekstrakurikuler, uang buku, uang seragam, uang badge, yang jumlahnya ndak bisa dibayangkan sebelumnya. “Jutaan rupiah!” Ya, karena Candradimuka memang disiapkan untuk mendadar calon pemimpin dan bukan ‘perusahaan’ calon pemimpin.

Tidak! Karena para dewa tahu, ia akan ‘mencetak’ manusia yang berakal budi luhur dan berjiwa kesatria. Meski tidak mengenal konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang juga tertuang dalam UUD 45, para dewa ini sadar, bahwa pendadaran Jabang Tetuka, tidak saja membuatnya menjadi manusia yang kuat, yang mampu mengalahkan Patih Sekipu yang deksia. Tetapi juga membuat Tetuka menjadi manusia cerdas dan berbudi luhur. Pendek kata, Tetuka berhasil menjadi manusia (kesatria) yang sempurna, berkat dadaran para dewa yang dipimpin Batara Narada.

Namun sekuat-kuatnya Tetuka atau Gatutkaca, ia punya titik kelemahan. Dan disanalah takdirnya ditentukan oleh sang Dewa. Gatutkaca harus tewas di tangan Karna. Karena ditangan Karna, tersimpan keris yang warangkanya berada di pusar Gatutkaca. Saat perang Baratayudha itulah antara keris dan kerangkanya menyatu di tubuh Gatutkaca. Gatutkaca pun gugur sebagai satria.

Kawah Candradimuka telah menjadi simbul proses pendidikan/pendadaran diri bagi mereka yang akan melakukan tugas berat sebagai kesatria atau pemimpin. Gatutkaca memang oleh para dewa dipersiapkan untuk menjadi pemimpin sekaligus pahlawan bagi negerinya Amarta dan keluarganya Pandawa.

Menjadi pemimpin memang tidak hanya bermodal uang dan otot. Tetapi juga keprigelan (kepandaian dan ketrampilan) dalam memanajemen negerinya. Sebagai pemimpin selayaknya dipersiapkan secara matang dengan proses yang tidak instant. Menjadi pemimpin tidak sekedar punya karisma, tetapi di zaman modern seperti ini juga perlu punya wawasan (intelektual) yang layak.

Dari sini kita melihat, negeri kita –bukan Amarta maupun Astina- ini punya kecenderungan, bernafsu menjadi pemimpin hanya bermodal kekayaan, dan tentunya kekuatan otot. Mereka yang didukung banyak orang –meski otaknya kosong- dianggap yang mampu dan bisa memimpin. Kwalitas tidak penting. Yang terpenting adalah pendukung.

Jangan heran kalau menjadi pemimpin saat ini tidak beda jauh dengan pemilihan penyanyi popular di TV-TV. Ganteng, cantik, bisa membuat ibu-ibu dan remaja kesengsem, menangis, tidak perduli mereka tidak bisa membaca partitur, dan suaranya pas-pasan.

Begitupula, kini kita punya kecenderungan memilih pemimpin seperti ini, ‘pokoknya lolos konvensi, didukung banyak orang, berkarisma, membuat adrenalin pendukung naik, dan tidak perduli omongnya omong kosong dari otak yang kosong pula.’

Kita telah terjebak dalam politik citraan. Sebuah politik yang hanya memamerkan kulitnya saja. Tidak ada esensi. Yang terpenting eksistensi citranya. Tak beda jauh dengan iming-iming label Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Embel-embel internasional, membuat wali murid ngiler. Tidak peduli harus bayar berapa dan tidak peduli apakah nanti anaknya juga bertaraf internasional atau tidak. Yang penting –demi gengsi- anaknya sekolah yang bertaraf (sering dipelesetkan, bertarif, pen) internasional.

Padahal hemat saya, RSBI atau kemudian juga SBI, tak lain politik citraan di lembaga pendidikan kita. Sekolah yang seharusnya menjadi kawah Candradimuka kini malah berfungsi menjadi semacam mesin pencitraan. Tugasnya hanya membuat sesuatu yang seolah-olah berstandar internasional. Sebut saja karena bukunya dari Singapura, bahasa pengantarnya bahasa Inggris, kurikulumnya mengadopsi kurikulum University of Cambridge, dan nanti lulusannya bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hmmm…dari sekian ratus siswa yang ada di Sumenep, Ngawi, Trenggalek, Pacitan, atau bahkan Surabaya, misalnya, ada berapa siswa yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri?

Jika Depdiknas tidak memiliki data statistik tentang hal ini mengapa tiba-tiba timbul kebijakan untuk mengubah sekolah-sekolah kita menjadi SBI yang berkiblat pada Cambridge? Untuk apa kita mengerahkan seluruh energi dan kapasitas kita membawa siswa menuju ke sistem Cambridge, kalau semua itu justru mengasingkan siswa dari realitas sosialnya?

Kok sepertinya sekolah hanya bertugas menata maneqin (boneka mode) di etalase. Tidak perduli maneqin-maneqin itu boneka lawas, cuman didandani dengan baju-baju mode terbaru, agar diakui masyarakat internasional? Sungguh naif bukan?

Tetuka adalah manusia sempurna. Dan arah pendidikan kita sebenarnya memanusiakan anak didik untuk menuju manusia sempurna sebagaimana yang diidealisasikan oleh tujuan pendidikan nasional.

Kenyataannya, sampai saat ini, pendidikan di Indonesia dinilai masih belum berhasil untuk mewujudkan kepentingannya, memanusiakan manusia. Selain gagal melaksanakan proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), sistem pendidikan di Indonesia juga gagal membentuk watak peserta didiknya.

Padahal jauh hari sebelumnya Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan kita tentang hakekat pendidikan. Menurutnya,� pendidikan merupakan tonggak berdirinya sebuah bangsa yang besar, berdaulat, berharkat, dan bermartabat. Pendidikan bertujuan menanamkan nilai-nilai hidup rukun dan damai di antara semua elemen bangsa, tanpa memandang kelas apapun. Namun kenyataannya sekarang jurang menganga malah semakin jelas.

Paulo Freire, dalam konsep pendidikan, memperjuangkan masyarakat yang mampu berpikiran kritis. Pendidikan tidak lain adalah proses memanusiakan manusia kembali setelah mereka mendapat penindasan, hegemoni, maupun kepentingan-kepentingan politis tertentu yang menyebabkan masyarakat terasing dari realitas lingkungan tempat mereka tinggal dan berinteraksi.

Persis seperti ketika Tetuka usai mengalahkan Patih Sekipu, Kresna dan Arjuna datang, meminta, agar Tetuka tidak lagi menggunakan taringnya. Kresna membebaskan Tetuka menjadi bangsa raksasa. Kresna menjadikan Tetuka sebagai manusia biasa. Sebagai satria yang menggunakan akal budinya untuk hidup.

Dan kini pendidikan kita sedang tercengkeram dalam taring kapitalisme global. Mau tidak mau kita harus melepaskan taring itu, agar pendidikan kita tidak terjebak dalam materialisme belaka, dimana sekolah hanya ditampakan pada fisiknya belaka, dan menghiraukan prosesnya.

Negara Mayoritas Islam

Januari 6, 2012

Sungai yang mengalir dan bermuara ke laut tersebut merupakan wadah tersendiri dengan berbagai sifat dan kerateristik untuk mengalirkan Air (yang juga mempunyai sifat dan kerateristik tersendiri)  ke Laut

Kalau Islam bagaikan Lautan yang sangat luas tak bertepi , maka  sungai ibarat aliran- aliran dalam Islam dan Air itu sendiri adalah Ummatnya

Aliran- aliran yang sesat diibaratkan sungai yang mengalirkan Air tetapi tak kunjung bermuara ke laut, mungkin karena kekeringan atau mendapat hambatan lainnya atau dibendung dan membentuk suatu waduk tersendiri.

Adakah masing Air di sungai itu mempertentangkan sungai lain tentang cara mengalirkan airnya ke laut???, tetapi yang pasti bahwa Air dalam sungai yang sama , tidak mempertentang dirinya atau sesama air , mereka mengalir apa adanya sesuai sifat dan kerateristik sungai tersebut dengan perkataan lain bahwa air mengalir tidak berdasarkan kerateristik Air yang berbeda tersebut. Contoh , Ada batu besar ditengah sungai , apakah Air yang berbau melewatinya dengan cara meloncati batu tersebut, Apakah Air yang jernih berbelok kekanan atau apakah Air yang bercampur lumpur berbelok kekiri???

Manusia khususnya yang mempunyai sifat ektrim mempertentangkan sesamannya (Manusia) yang tidak sealiran, malah ada diantaranya ,kadang mempertentangkan cara/ keinginannya dengan sesamanya walaupun sealiran… dan lebih gila lagi ada yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain…. Kenapa….kenapa…????

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba melihat contoh logika dibawah ini sebagai berikut:
Saya, Anda, teman saya , teman anda dan siapa saja yang membaca tulisan ini ibarat murid murid (siswa/mahasiswa)  yang akan menempuh suatu ujian tertulis dengan 100 soal yang harus dijawab dalam waktu 100 menit. dan setelah 100 menit , semua kertas jawaban dikumpulkan dan diperiksa oleh Guru untuk menetapkan hasil nya yaitu Lulus atau Tidak Lulus (batas kelulusan yaitu 60 jawaban benar dan tingkat kelulusan ditetapkan sebagai berikut : kalau benar 100 -91 disebut Lulus istimewa, 90-81 : lulus sangat Baik, 80-71 : Lulus Baik, 70-61: lulus cukup baik, 60: hampir tidak lulus, 59-50: Hampir lulus , 49-0 Tidak lulus) .
Dua soal dari seratus soal adalah :
1. Berapakah hasilnya 3 kali 3 ???
2. Bagaimanakah mendapatkan angka 9 dengan menggunakan angka nol (o) sampai sembilan (9)  ???

Masing masing murid menghadapi ujian tersebut mempunyai sifat dan kerateristik yang berbeda2 , diantaranya :

  1. Ada yang menyelesaikan terlebih dahulu soal yang gampang kemudian soal yang sulit.
  2. Tetapi ada juga sebaliknya
  3. Ada yang berusaha menyontek teman murid lainnya dan
  4. Ada pula yang berdebat tentang jawaban beberapa soal sementara ujian berlangsung.
  5. Dan lebih gila lagi, ada yang berdebat tentang kebenaran jawaban 2 contoh soal tersebut diatas setelah kertas jawaban dikumpulkan.

Seandainya Saya, teman saya, Anda dan teman Anda serta semua yang membaca tulisan ini dapat berkumpul disatu tempat , saya akan mengatakan :

  • Contoh soal yang pertama (3 kali 3 ) mempunyai satu nilai kebenaran kebenaran pada Ujian ini ada pada Guru , tetapi kebenaran yang hak ada pada Tuhan Maha Mengetahui
  • Contoh soal yang kedua adalah “Jawabanku adalah Saya dan Jawabanmu adalah Kamu”
  • Sifat Manusia yang bijaksana adalah sifat yang pertama yaitu ” menyelesaikan terlebih dahulu soal yang gampang kemudian soal yang sulit”, yang lainnya tidak bijaksana dan tidak berguna
  • Yang menentukan kelulusan Adalah Guru , setelah memeriksa hasil jawan ujian.
  • Tidak peduli hasilnya pada ujian ini yaitu 60 (hampir tidak Lulus) atau 100 (istimewa) yang penting Lulus, dan berusaha lebih baik untuk ujian berikutnya dengan belajar lebih giat.

Kembali kepertanyaan Kenapa…kenapa ..???

  • Kenapa Negara Mayoritas Islam seperti Indonesia banyak sekali pelanggaran HAM ???
  • Kenapa dan berapa banyak rakyat terbunuh dan tertindas disektor Agraria/ perkebunan  dan Pertambangan tahun 2011 dan berapa pula yang Mati dan tergusur dari tempat tinggalnya , hanya semata mata kepentingan Investor ( Kenapa Pemerintah lebih mementingkan Investor dari pada rakyatnya ??)
  • Kenapa di Instansi/ Institusi sangat birokrasi??, harus ada ini, harus ada itu??, sampai2 mengeluarkan biaya jauh lebih banyak dari hasil yang akan dicapai. terkadang karena alasan birokrasi perkara yang mudah jadi sulit, yang ironisnya terkadang yang menjadii Haknya akhirnya tidak berHak…(sebenarnya Birokrasi itu baik-red)
  •  Kenapa seorang Polri menganiaya Anak dibawah umur hanya karena menuduh mengambil sendalnya???, Kenapa pengadilan palu menyatakan bersalah kepada anak tersebut???, dan kenapa pula Kapolri mendapat oleh2 1000 pasang sendal dari atas nama masyarakat/ Rakyat???

Kenapa ( Pemerintah/Penguasa/ seakan-akan tidak pernah memperhatikan kepentingan Rakyatnya) ?

  • Pemerintah menyatakan dirinnya sebagai Guru yang menentukan kebenaran  (lihat contoh diatas) , asalkan pekerjaannya sesuai prosedur (aturan, keputusan, Undang2) maka dianggapnya BENAR
  • Pemerintah/Penguasa/ dalam hal ini Pejabat (tinggi sampai rendahan) tidak pernah mau memikirkan/ menyelesaikan urusan yang gampang-gampang , “saya pernah mendengar Pejabat mengatakan Kalau urusan yang besar dan sulit itu urusan/ fikiran Atasan” , tetapi urusan yang kecil atau gampang-pun tidak juga difikirkan apalagi dilaksanakan oleh bawahan , mereka lebih senang melaksanakan instruksi atau perintah (malah kalau melaksanakan urusan yang kecil2 apalagi melanggar aturan pasti dianggap bersalah).
  • Pemerintah/penguasa lupa bahwa sebenarnya Republik / Negara ini adalah milik Rakyatnya , beliau hanyalah diberi Amanah untuk melaksanakan dan mengatur dan sekaligus melindungi ..

Dimana-mana terjadi perdebatan yang hanya disebabkan karena adanya perbedaan pendapat , yang tidak bisa diterima oleh yang lainnya,  dan kalau salah satunya memaksakan pendapatnya dan lainnya tidak menerimanya maka terjadilah pertikaian dan apabila penguasa yang memaksakan kehendaknya maka terjadilah penindasan

Seharusnya Pemerintah menyadari bahwa Negri ini Mayoritas Islam, dan Amanah yang diberikan kepada pejabat/ penguasa juga dari rakyatnya yang mayoritas Islam. dan paling tidak mempunyai  6 image dari 7 image negara yang ada dibawah ini.
Contoh Negara Singapore adala Negara yang mempunyai lingkungan terbersih dan tidak koruptor , Kalaupun ada orang koruptor di Singapore , pasti datangnya dari Negara lain.

Carilah padannya Negara vs Image

Negara

  1. Amerika Serikat
  2. Jepang
  3. Korea
  4. Taiwan
  5. Eropa
  6. Indonesia
  7. Singapore

Image

  1. Loyal
  2. Koruptor
  3. Bersih
  4. Ulet
  5. Hak Pribadi
  6. Disiplin
  7. Tegas

Penggusuran tempat tinggal sah-sah saja

Desember 4, 2011

Penggusuran tempat tinggal sah-sah saja

Tindakan penggusuran yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia menunjukkan tidak terlindunginya hak bertempat tinggal dan berusaha para korban  karena penggusuran itu dilakukan tanpa penyediaan tempat lain untuk bertempat tinggal atau tempat berusaha sebagai penggantinya. Baca entri selengkapnya »

Kekuasaan yang hilang

Desember 4, 2011

Pemerintah, Satpop PP, Masyarakat, Rakus , Kekuasaan, Rusuh, Anarki menjadi satu  dalam satu nusa dan satu bangsa.

Medio Mei 2010, telah terjadi anarkisme dalam arti yang sesunggunya yang memuncak pada hari Rabu, 14 April, di Koja, wilayah Tanjung Priok , Jakarta Utara. Massa yang marah dan kecewa, karena merasa tak diperlakukan secara manusiawi dan adil oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparat kepolisian yang bertindak represif atas nama pemerintah, mengamuk tanpa kendali. Baca entri selengkapnya »

Kaum Buruh

Desember 4, 2011
Pada tanggal, 1 Mei 2010, hari buruh internasional. Selama Orde Baru (orba) atau sejauh ini, hari buruh internasional kurang dirayakan atau bahkan tak dirayakan di Indonesia atau dirayakan dengan malu-malu dan rasa gamang karena dihubung-hubungkan dengan komunisme. Baca entri selengkapnya »

Bangsa Beradab

Desember 4, 2011

Bangsa Beradab
Amat kita sayangkan, sesuatu yang pernah terjadi di Tarakan, Kalimantan Timur ,konflik yang memancing sentimen etnis. Padahal asalmuasalnya hanyalah insiden kriminal biasa, tidak ada latar belakang sentimen etnis.
Dua kelompok etnis kembali pasang kuda-kuda siap-siap  bertarung. Peristiwa pahit di Sampit beberapa tahun silam hampir saja terulang kembali.
Kita bersyukur keadaan mereda. Melalui berbagai pendekatan, kedua kelompok mulai dapat ditenangkan. Harapan kita semoga keadaan benar-benar kembali dingin dan pulih sebagaimana sedia kala. Baca entri selengkapnya »

Orang Gila dan Koruptor

Desember 4, 2011

Seorang pria berbaju kumal, badannya dekil, rambutnya panjang awut-awutan, memanggul segala macam bawaan, tiap hari berjalan tidak tentu arah. Ia selalu mengoceh sendiri, bicara sendiri dan tertawa sendiri. Tapi ketika ia mengoceh atau tertawa seolah-olah dia sedang berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan ia sering amat serius bicara, seperti orang berpidato sambil mengacungacungkan telunjuk. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.