Indonesia Telat mikir (telmi)

Indonesia Telat memikir – Apakah ini juga suatu conspiracy ???

Setelah merebak berita pembobolan ATM barulah kemudian pihak bank sibuk bagaimana mengamankan ATM mereka. Sekarang, polisi memperketat pengamanan ATM. Padahal kejadian bobolnya rekening nasabah akibat duplikasi kartu ATM sudah berlangsung lama.
Setelah merebak berita kasus pelecehan seks anak-anak barulah pemerintah DKI tersentak merazia anak jalanan dan hendak memeriksa (maaf) anusnya. Siapa tahu mereka sudah pernah jadi korban phedofilia. 
Dulu, setelah ada bom meledak di beberapa tempat, barulah keamanan di tempat-tempat strategis dilakukan penjagaan dan pemeriksaan ketat. Semua mobil diperiksa, semua pengunjung di dideteksi pakai metal detector.
Barulah setelah ada lembaga pemasyarakatan atau rutan kedapatan melalui sidak, telah memberi fasilitas istimewa pada napi tertentu, menteri dan pejabat tinggi berkompeten lain melakukan sidak di seantero rutan seluruh negeri. Sesudah itu baru ada tindakan drastis. Sejumlah pejabat dimutasi. Ada yang dinonjobkan dan ada yang dimutasi.
Nantilah ada kejadian nenek Minah yang ditangkap hanya karena memungut tiga buah cokelat miliknya, kita baru tersentak bahwa banyak “Minah-Minah” lain yang bernasib sama, lalu di mana-mana ada yang berteriak protes.
Nantilah setelah ada pemutaran kaset rekaman hasil penyadapan KPK terhadap percakapan telepon Anggodo dengan sejumlah petinggi hukum, kita baru benar-benar yakin ada yang namanya mafia hukum, dagang hukum, makelar kasus, lalu bikin satgas untuk memberantasnya.
Barulah setelah ada kejadian kereta-api tabrakan atau pesawat kecelakaan, pihak yang bertanggung jawab melakukan pemeriksaan ketat, menambah aturan ini dan itu, dengan alasan agar kecelakaan bisa dikurangi. Padahal berselang beberapa waktu kemudian, kejadian berulang dengan sebab yang sama.
Barulah setelah ada bank dibobol lagi, kita baru tersentak kemudian hingar-bingar saling tuduh, protes, bikin pansus pengusutan, yang satu menggalang demo, yang lain membela habis-habisan, sesudah itu reda pelan-pelan karena capek sendiri. Nanti kemudian ribut lagi setelah ada kejadian yang sama dengan sebab yang sama. Protes lagi, demo lagi, bikin tim lagi, bentuk satgas lagi, ramai lagi. Sesudah itu “tidur” lagi.
Pendek kata, di negeri kita, banyak sekali kejadian yang sudah terjadi, baru kemudian kita terhentak sadar, kemudian sibuk mencari jalan keluar. Itu pun, sebelumnya, ada pihak yang merasa perlu sibuk membantah kiri-kanan terlebih dahulu, baru diam-diam mengakuinya dan cari pemecahan.
Itu pun sesudah ada yang disebut pemecahan itu, kita jangan dulu berpuas diri. Sebab seringkali yang disebut penyelesaian adalah sekadar langkah yang tidak menyentuh akar persoalan, hanya angin-anginan atau panas-panas tahi ayam. Tidak lama sesudah itu, keadaan kembali lagi seperti semula, atau malah lebih parah lagi.
Kita menjadi terbiasa sesudah kejadian baru bereaksi sebentar, sesudah itu lupa lagi. Kita sering telmi alias telat mikir. Kita terbiasa dengan tiba masa tiba akal. Yang dikhawatirkan, suatu ketika, kita tiba masa hilang akal.

Lihat daftar tulisan  Conspiracy Politik di Republik ini setelah salah satu dari 3 pasangan pendekar sebagai pemenang
Baca juga literatur terkait tentang Kupas Tuntas Politik

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: