Koalisi Tahi Kambing

Koalisi Tahi Kambing

Conspiracy, Kalau kambing buang hajat, kita semua sudah tahu, kotorannya terdiri beberapa gumpalan. Setiap gumpalan terdiri atas bulatan-bulatan kecil yang saling melengket, hitam, lebih kecil dari kelereng lebih besar dari kacang tanah. Ya, ukurannya antara kelereng dan kacang tanah-lah.

Kotoran kambing, ketika keluar dari maaf dubur-nya, butir-butirnya menyatu, lengket, dan kalau mau coba pegang, pasti terasa hangat. Jadi, bukan hanya tahi ayam yang hangat sehingga ada ungkapan panas-panas tahi ayam. 

Tapi begitu tiba di tanah, bulatan-bulatan kotoran itu bercerai, dan segera hilang hangatnya. Bagaimana nasib masing-masing bulatan kotoran? Bisa beda-beda. Ada yang diinjak kambingnya sendiri hingga penyet, ada yang disapu bersih oleh petugas kebersihan dan ada yang tinggal mengering lalu terurai kembali di tanah.

Ada ungkapan orang dulu yang tentu kita masih ingat, persatuan tahi kambing. Ungkapan ini berkenaan dengan persatuan semu, persatuan yang mudah bercerai-berai. Ketika sekarang orang ramai dengan berita koalisi partai politik, saya justru bayangkan bagaimana bulatan-bulatan tahi kambing “berkoalisi”, saling lengket melewati satu pintu, yang mau tidak mau, tidak bisa tidak, harus dilewati bersama, yang lobang pelepasan alias anus.

Mari kita pelajari lebih lanjut. Gumpalan yang keluar sebagai kotoran kambing, bisa dua atau tiga gumpalan, Setiap gumpalan terdiri lagi atas kotoran-kotoran bulat kecil tadi, yang jumlahnya beberapa butir. Proses menyatunya bulatan tahi kambing dalam “koalisinya” kebanyakan masih terus berlanjut tapi tidak berlangsung lama, hanya dalam waktu tempuh sepanjang perjalanan dari dubur kambing sampai ke tanah.

Begitu gumpalan tahi kambing tiba di tanah, maka hampir semua gumpalan tidak ada lagi yang utuh. Bulatan-bulatan kotoran berserakan tidak ada hubungan antara satu dengan yang lain. Semuanya sudah terpisah.

Dari gambaran itu, saya lalu dapat sebuah pelajaran dari tahi kambing. Bahwa bersatu itu ada kalanya terjadi hanya karena keadaan yang memaksa saja, seperti kambing yang kebelet mau buang hajat itu. Setelah proses kebelet selesai, persatuan bulatan tahi kambing juga selesai. Masing-masing bulatan menjalani nasibnya sendiri-sendiri.

Rupanya dalam hal buang hajat dari dulu kambing sudah punya “falsafah” tidak ada persatuan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Ketika tahi kambing mencapai tujuan (tanah tempat jatuhnya), butir-butir kotorannya langsung berpisah. Memang ada juga dua atau tiga butir tertentu yang tetap melengket ketika sampai di tanah, tapi itu jarang terjadi. Malah ada beberapa butir yang sudah melepaskan diri, sebelum mencapai tujuan.

Setiap hari kambing memperagakan falsafahnya itu, dalam “mengkoalisikan” butir-butir kotorannya. Itu adalah sunnatullah, bagi kambing, tentunya. Ketika para politisi dan partai politik sibuk dan tegang mengatur strategi dan taktik berkoalisi, saya tidak tahu persis falsafahnya. Yang saya tahu hanya falsafah koalisi tahi kambing itu.

Alasannya sederhana saja, dalam menyalurkan hajatnya, kambing “mengkoalisikan” butir-butir kotorannya dengan alasan sunnatullah yang sederhana saja, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tidak pakai strategi, tidak pakai taktik, tidak penjelasan dengan kalimat berlapis-lapis yang sulit ditembus. (*)

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: