Binatang Dalam Politik

Analogi Binatang Dalam Politik

Susilo Bambang Yudoyono (SBY), Presiden RI dibuat marah oleh ulah para demonstran yang melakukan unjuk rasa dengan membawa seekor kerbau. Perbuatan dan kata-kata para aktivis yang menyamakan dirinya dengan kerbau (malas dan bodoh) dianggapnya berlebihan dan sudah tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya, demokrasi dan pranata sosial.
Binatang sering dijadikan sebagai sebuah simbol alegoris dalam kehidupan manusia, baik dalam dimensi kebaikan maupun kejahatan. Ular misalnya menjadi simbol bagi dunia kedokteran, kancil dianalogikan sebagai simbol binatang yang cerdik dan licik, tikus simbol perilaku korupsi, sedangkan keledai disimbolkan sebagai binatang yang dungu/bodoh…. 
Alquran juga biasa menganalogikan manusia dengan binatang. Di dalam QS Al-A’raf: 179, Allah berfirman: Dan kami penuhi neraka jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka memiliki hati, tetapi tidak mampu memahami ayat-ayat Allah, mereka memiliki telinga tetapi tidak sanggup mendengar, mereka punya mata tapi tidak dapat melihat, mereka itu seperti binatang, bahkan lebih jelek lagi dari binatang, mereka itu adalah orang-orang yang lalai/bodoh. Di dalam QS Al-Jumuah: 5, Allah menganalogikan orang-orang yang mendapat kitab suci tetapi tidak mengamalkannya seperti binatang keledai yang memikul beban berat. Kedua ayat di atas menggambarkan bahwa derajat manusia bisa sama dengan binatang bahkan lebih jelek lagi jika mereka tidak mampu memaknai dan mengamalkan petunjuk Tuhan.
Makna Simbol Manusia adalah makhluk simbolik, yaitu makhluk yang mampu membuat dan menerjemahkan simbol-simbol yang diciptakan. Simbol berbeda dengan tanda atau icon. Tanda adalah fenomena yang secara langsung terkait dengan sebuah peristiwa yang dapat dipahami lewat pengalaman. Awan hitam, angin kencang dan kilat merupakan tanda mau hujan. Icon merupakan sebuah objek atau fenomena yang apabila disebut akan mengingatkan kepada objek atau fenomena lain. Misalnya, menyebut nama Makassar, orang akan mengingat Pantai Losari, atau jika menyebut Pantai Losari orang ingat Makassar. Dengan demikian, Losari merupakan icon kota Makassar. Simbol adalah sebuah fenomena/objek yang secara tidak langsung berkaitan dengan fenomena/objek lainnya. Karena tidak berkaitan langsung, maka untuk memahami sebuah simbol diperlukan pemaknaan dan interpretasi mendalam. Simbol lebih bersifat spesifik dan sektoral. Misalnya warna merah-putih (Bendera RI) merupakan simbol kesucian dan kebesaran negara RI. Warna merah-putih yang berada pada sebuah kain seukuran bendera dianggap sakral di Indonesia, tetapi mungkin tidak berlaku di negara lain. Kayu berpalang (seperti salib) merupakan simbol keagungan sebuah agama, tetapi tidak berlaku bagi agama lain. Kedalaman makna sebuah simbol juga sangat bergantung pada situasi dan interpretasi orang (subjek) yang memberi makna. Sekuntum bunga mawar merah yang dibagi-bagikan di perempatan lampu merah di saat Valentine Day, atau hari ibu, merupakan simbol kasih sayang. Simbol kasih-sayang ini hanya dapat dipahami bagi mereka yang mengetahui eksistensi hari ibu atau valentine day, tetapi tidak berlaku bagi yang tidak memahaminya. Demikian pula, bunga mawar ini lebih bermakna dan berkesan lagi, jika diberikan oleh seorang kekasih (laki-laki) kepada gadis yang dicintainya. Jika mawar yang diberikan kepada masyarakat di lampu merah hanya disimpan mungkin satu atau dua jam, maka mawar dari kekasih untuk kekasih akan bertahan berhari-hari selama bunga itu masih utuh dan bisa disimpan. Di dalam dunia politik, analogi binatang sering mewarnai sejumlah term yang dipakai untuk menggambarkan sesuatu atau situasi. Ungkapan; sapi perah, kuda tunggangan, kambing hitam, dagang sapi, adu domba dan lain-lain memiliki makna yang sangat dalam untuk menggambarkan situasi yang terjadi. Ungkapan simbolik sering dipakai untuk menjelaskan situasi yang agak rumit diurai dengan kata-kata atau kalimat. Karenanya, konstruksi analogi ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang terdidik, baik secara akademik maupun politik.
Politik Kelelawar Kenapa kelelawar tidak mau keluar di siang hari? Konon suatu hari terjadi perlombaan lari antara kelompok burung (udara) dan tikus (darat). Kelompok kelelawar yang secara fisik memiliki kemiripan dengan kedua jenis binatang ini, pada awalnya tidak memihak kepada siapa-siapa, tetapi cenderung menunggu (wait and see) keadaan. Di saat perlombaan dimulai, tampak kelompok burung lebih cepat dan mendahului kelompok tikus. Melihat situasi menguntungkan ini, kelelawar memutuskan untuk bergabung kepada kelompok burung. Mereka menyatakan bahwa komunitas kelelawar memiliki kemiripan dengan burung karena memiliki sayap. Namun waktu perlombaan belum berakhir, kelompok burung tampak mulai lelah akibat diterpa angin, sehingga mulai ditinggalkan oleh kelompok tikus. Melihat situasi yang tidak menguntungkan ini, kelompok kelelawar mulai khawatir kalah. Mereka kemudian memutuskan memisahkan diri dari kelompok burung dan menyatakan berkoalisi dengan kelompok tikus. Pada awalnya tikus tidak percaya terhadap itikad baik kelelawar, namun argumennya yang menyatakan kelelawar memiliki mulut yang mirip dengan tikus, akhirnya mampu juga meyakinkan kelompok ini Menjelang finish, tampak kelompok tikus ketinggalan. Tanda-tanda kelompok burung akan menjadi pemenang semakin tampak. Hal ini membuat kelompok kelelawar merasa khawatir. Akhirnya mereka meninggalkan kelompok tikus dan mencoba kembali bergabung dengan burung. Namun sayang, burung tidak mau lagi menerima kehadiran kelelawar karena sudah pernah berkhianat di dalam perjuangan. Kelelawar merasa malu terhadap kejadian ini. Mereka akhirnya mengadakan kongres dan memutuskan untuk tidak lagi keluar pada siang hari karena malu kepada burung, tikus, juga kepada komunitas binatang lainnya. Analogi cerita kelelawar ini menggambarkan betapa situasi dan perilaku politik seringkali diperankan seperti itu. Orang tidak segan-segan berkhianat, menjilat dan bermuka dua hanya untuk memenuhi syahwat politiknya. Sensitivitas Simbol Simbol memiliki sensitivitas yang sangat kuat jika masuk ke dalam wilayah agama, negara dan budaya. Di dalam ketiga institusi ini, simbol dipandang sebagai sesuatu yang sangat sakral dan dihargai, karena merupakan kesepakatan luhur atas sebuah nilai yang dijunjung tinggi bersama. Oleh karena itu, masyarakat harus sedikit berhati-hati bermain-main dengan simbol-simbol di tiga wilayah ini. Masyarakat seharusnya tidak seenaknya menurunkan bendera merah putih (simbol kebesaran negara) atau mempermainkan simbol-simbol negara lainnya tanpa ada sebab atau ketentuan yang membolehkannya. Demikian juga simbol dalam agama dan budaya.
Sebab efek dari semua ini, dapat berujung kepada munculnya kebencian, amarah dan fitnah yang dapat memicu konflik di tengah–tengah masyarakat. [Barsihannor – f.c.i]

Baca juga Koalisi Tahi Kambing
ASR Search Engine

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: