Ketika Berdusta Jadi Budaya

Fenomena berdusta di masyarakat kita telah berurat berakar di seluruh aspek kehidupan. Hampir tidak ada celah yang bebas dari perilaku dusta. Ya, berdusta nyaris menjadi hal yang lazim. Memenuhi hukum sebab akibat, apa yang terjadi saat ini sebenarnya adalah hasil dari perlakuan yang diterima anak ketika mereka masih kecil.

Buahnya, telah sama kita saksikan sekarang, dan nyaris menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Mari menyimak rambu-rambu tentang proses pengasuhan anak yang telah disampaikan berabad yang lalu dan harus jadi perhatian setiap orangtua…  

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS An Nisa: 9).

Chandra Marta Hamzah, salah seorang wakil ketua KPK yang menjadi korban dusta dan diseret masuk dalam pusaran korupsi, menunjukkan kepada kita bahwa betapa penanganan yang tepat terhadap perilaku anak yang keliru waktu kecil, dapat menjadi dinding untuk menghindarkan seseorang dari perilaku buruk saat dewasa.

Saat ibu Chandra Marta Hamzah ditanya , apakah sang ibu percaya apa yang disangkakan kepada si anak, bahwa anak beliau menerima atau meminta suap? Dengan tegas sang ibu berkata, “Saya tidak percaya, karena saya telah mendidiknya dengan baik waktu kecil.” Beliau dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa anaknya telah dipahamkan sejak sangat kecil, bahwa mengambil sesuatu yang bukan miliknya, tanpa izin dan tanpa sepengetahuan pemilik yang sah adalah dosa.

Lalu meluncurlah ceritanya, bahwa suatu ketika, saat Chandra belum bersekolah (usianya belum 5 tahun), sang ibu kehilangan sejumlah uang receh yang disimpan di laci mesin jahit, rupanya ibu yang bersahaja ini ikut menambah nafkah keluarga dengan jalan menerima jahitan.

Naluri tajamnya sebagai ibu membuatnya menanyakan hal kehilangan ini kepada Chandra kecil. Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, ditanyalah si anak, apakah dia mengambil uang di laci mesin? Dengan jujur si anak mengiyakan (anak kecil pada dasarnya memang tidak tahu berdusta, kecuali pernah dicontohkan).

Si ibu lalu memuji anak karena kejujurannya, lalu menjelaskan dengan bijak bahwa perbuatan yang telah dilakukannya itu salah (anak memang belum bisa membedakan mana perbuatan yang benar dan mana yang salah, makanya harus diberi penjelasan dengan benar), itu namanya mencuri, dan mencuri adalah perbuatan dosa.

Mengiringi penjelasannya yang bijak, Chandra kecil kemudian dikisahkan tentang nasib seorang kiai yang terhalang masuk surga karena telah mengambil sebuah slilit, serat kecil bambu yang terlepas dari bilah bambu yang telah dibelah, biasanya banyak terdapat pada pagar bamboo, untuk mengeluarkan kotoran yang melekat di giginya. Slilit itu telah diambilnya dari pagar bambu, tanpa izin pemilik pagar.

(Cerita menarik ini dapat dibaca lebih lengkap pada buku “Slilit Sang Kyai” karangan Emha Ainin Nadjib). Si anak terkesima, gara-gara slilit, benda yang tidak ada harganya sama sekali, jadi penghalang sang kiai untuk masuk surga, impian seluruh makhluk.

Tentu bukan hanya kisah slilit ini yang membuat Chandra Marta Hamzah menjadi seseorang yang kita kenal sekarang, namun hal ini setidaknya memberikan gambaran bahwa tindakan preventif dan intervensi dengan cara yang tepat harus dilakukan oleh setiap orangtua dan orang dewasa, segera ketika anak berperilaku salah.

Budaya berdusta yang sekarang dengan sangat mudah ditemui dan dilakukan, adalah produk pengasuhan yang salah di masa kecil. Sebagian orangtua mungkin telah memberi contoh berdusta tanpa sadar bahwa anak akan berbuat yang sama di kemudian hari.

Mereka berdusta saat anak rewel dan menangis minta perhatian, mereka berdusta saat tidak mampu menuruti permintaan anak, bahkan mereka berdusta untuk melindungi anak. Padahal, anak hanya perlu diberi pengertian dan penjelasan yang logis. Bahwa penjelasan itu kemudian tidak dapat diterimanya, orangtua harus sadar bahwa semua dalam kerangka belajar.

Anak bahkan juga harus belajar bahwa tidak setiap keinginan harus terpenuhi, dengan demikian mereka juga belajar bagaimana mengendalikan diri. Berdusta juga makin menjadi ketika perilaku dusta didiamkan, bahkan dibiarkan berlangsung tanpa tanggapan apapun.

Adalah tidak mungkin bangsa ini menjadi besar dan tangguh, adil dan beradab, bila diisi dan dikendalikan oleh orang-orang yang tidak jujur dan lihai berdusta. Bila kita masih berharap bahwa bangsa yang kita cintai ini suatu saat akan bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain, tanpa rasa rendah diri karena menjadi negara pengutang dan terkorup di dunia, buah dari perilaku dusta kepada setiap orang, berhentilah berdusta sekarang juga.

Westminster Abbey, arsitek kerajaan Inggris yang sangat terkenal di zamannya, pernah berandai-andai di ujung usianya (wafat 1100 M). Di atas batu nisannya terukir kalimat luar biasa, artinya kurang lebih seperti ini: “Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia agar bisa menjadi lebih baik… tapi kudapati dunia tidak pernah menjadi lebih baik.

Cita-citaku lalu kupersempit, aku hanya ingin mengubah negeriku sendiri, hasrat itupun tidak membawa hasil. Ketika usiaku makin senja, dengan semangat yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, namun merekapun ternyata tidak mau berubah.

Dan hari ini, saat aku berbaring menanti ajal, tiba-tiba kusadari, seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama harus kuubah adalah diriku, dengan menjadikan diriku panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku akan mampu memperbaiki negeriku.

Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia!” Pembaca yang berbudi, kita harus malu menjadi bangsa pendusta. Berdusta jangan jadi budaya. Dan seperti yang juga telah diajarkan dalam agama kita, mulailah dari diri sendiri. Mulailah untuk tidak lagi berdusta, sekecil apapun bentuknya. Mau?

[Sumber :Andi Olle Mashurah – fajar co id]

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: