Simbol Hewan

Perumpamaan Buruk Melalui kitab suci, Tuhan beberapa kali memberi perumpamaan buruk tentang manusia dengan simbol hewan. Orang yang tidak mau menggunakan kalbu dan indranya untuk memahami kebesaran Tuhan, diumpamakan seperti hewan ternak. Umat Nabi Musa yang tidak mau mengkaji dan mengamalkan isi Taurat diumpamakan bagai keledai membawa kitab. Juga Tuhan menggunakan suara keledai sebagai sebuah umpama paling buruk bagi manusia yang selalu meninggikan suaranya dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam sebuah tafsir sufistik, ….. ¬†dijelaskan bahwa suara keledai yang dianggap paling buruk bukanlah karena lengkingannya. Dikisahkan bahwa keledai baru bersuara apabila ia lapar atau haus. Artinya, keledai baru bersuara bila ada masalah dengan urusan perut. Ini sebuah amsal yang cukup menyengat bagi manusia, sebab betapa banyak manusia hanya bersuara lantang
bila berhubungan dengan urusan yang satu itu. Suara keledai adalah suara yang hanya terdengar bila berurusan dengan isi perut. Perumpamaan seperti itu dinyatakan sendiri oleh Tuhan sebagai perumpamaan buruk. Apa boleh buat, ia diberikan kepada manusia ketika manusia itu sendiri memelorotkan martabat dirinya sendiri. Sebenarnya manusia adalah makhluk yang potensial cerdas. Itu sebabnya, Tuhan justru sering menyindirnya secara alegoris
lewat simbol-simbol. Manusia (yang sebenarnya cerdas itu) sudah pasti segera tersinggung, merasa malu disindir Tuhan dengan bahasa demikian, lalu memperbaiki diri. Ia tidak mau menjadi seperti apa yang diumpamakan itu.
Tapi mengherankan, tidak sedikit orang yang sama sekali tidak merasa terusik dengan sindiran perumpamaan-permpamaan itu. Atau kalaupun terusik, itu hanya sebentar, sesudah itu terus melakukan apa yang disukainya. Dia menggunakan prinsip EGP, Emangnya Gue Pikirin. Atau mungkin berkata, perumpamaan-perumpamaan yang diberikan Tuhan itu, tidak ada hubungan dengan dirinya. Tegasnya, bukan dia, tapi orang lain. Orang yang demikian sebenarnya tergolong tuna nurani. Jika orang yang tidak bisa mendengar disebut tuna rungu, maka orang yang nuraninya tidak bisa lagi tersentuh, tidak salah kalau disebut tuna nurani. Betapa ngerinya kehidupan jika semakin banyak orang yang tuna nurani. Lebih ngeri lagi jika yang tuna nurani adalah elite sebuah masyarakat, atau pemimpin sebuah negeri. Dalam kehidupan seperti itu, nasib orang kecil semakin terhimpit karena hanya dijadikan alat atau juga korban. Orang kecil dibicarakan dalam seminar. Seminarnya berlangsung di gedung mewah. Sangat kontras dengan gubuk-gubuk reot orang kecil yang diseminarkan masalahnya. Selesai seminar, sebuah simpulan disusun. Sejumlah rekomendasi perbaikan nasib mereka diusulkan kepada pihak yang terkait. Orang-orang kecil itu tidak pernah tahu bahwa nasib mereka dibicarakan dalam seminar. Yang mereka tahu hanyalah, ketika bangun pagi-pagi, pasukan tramtib dengan buldoser siap menggusur rumah mereka. Alasannya cukup gagah, bangunan liar, berdiri tanpa izin, merusak keindahan. Orang-orang miskin itu hanya meratapi nasibnya. Ada yang stres lalu bunuh diri. Ada yang hanya melongo melihat puing-puing gubuknya. Ada murid sekolah yang mengaisngais reruntuhan mencari buku sekolah yang dengan susah payah didapatnya. Ada bayi kecil menangis keras. Semuanya hiruk-pikuk menjadi sebuah orkestra pilu. Tapi aneh tuh, banyak nurani tak terusik. Penggusuran tetap berlangsung gagah perkasa. Perumpamaan apa pula itu?

Baca Juga Simbol Hewan menurut beberapa Budaya Bangsa

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: