Zaman Barter

Kembali ke Zaman Barter
Doeloe , pada zaman baheula, sewaktu mata uang belum dikenal, jual-beli dilakukan dengan sistem barang ditukar barang. Misalnya, beras ditukar minyak kelapa, garam ditukar gula kelapa, ayam ditukar baju, dan sebagainya. Kegiatan tukar-menukar itu dinamakan barter.

Seiring dengan majunya kehidupan masyarakat, dan uang telah dikenal sebagai alat tukar, maka jual-beli sistem barter ditinggalkan orang. Boleh dikata barter tinggal kisah masa lalu, kisah masyarakat zaman kuda gigit besi. …

Tapi sekarang, istilah zaman baheula itu muncul lagi. Istilah barter kembali mencuat dan diberitakan oleh media massa, cetak maupun elektronik. Tiba-tiba saja muncul rumor tentang barter perkara. Apa pula itu?
Beberapa anggota DPR dari berbagai fraksi atau parpol yang sangat getol ingin terus menguak kasus Century, konon diupayakan agar tidak lagi galak, terus mengejar penyelesaiannya secara hukum.

Sebagai “barterannya”, beberapa kasus pelanggaran hukum lain, yang konon dilakukan oleh beberapa anggota DPR atau petinggi parpol, juga tidak akan dikejar. Pelanggaran hukum itu, ada yang berupa pelanggaran pajak, L/C bodong, dan terima suap.

Kita tidak tahu bagaimana persisnya rumor itu, bisa tidak bisa ya. Apalagi di negeri ini, segala macam yang tidak mungkin terjadi di negeri lain, bisa terjadi. Begitu juga sebaliknya, yang mungkin terjadi di negeri lain, tidak mungkin terjadi di negeri ini.

Kita hanya bisa berkata, kalau memang barter perkara itu ada dan terjadi diam-diam, maka semakin lengkaplah cerita aneh negeri ini.
Dalam dunia hukum ada istilah dagang hukum, mafia hukum, makelar kasus, jaksa nakal, main hakim sendiri, hakim main sendiri, lalu ditambah lagi barter perkara.

Dalam dunia politik ada istilah dagang sapi, politisi busuk, politik kotor, kutu loncat dan sebagainya. Dalam bidang ekonomi ada istilah cuci uang, uang haram, uang siluman, uang panas dan sebagainya. Dalam Urusan ada istilah uang pelicin, uang kaget
Istilah-istilah itu, seperti halnya istilah barter perkara tadi, tentu saja ibarat asap yang tentu ada apinya.

Hanya saja dalam urusan-urusan seperti itu, menemukan “api” yang jadi sumber asap tersebut sulitnya bukan main. Penghalangnya banyak sekali, termasuk di antaranya sistem barter itu sendiri.

Barter perkara, jika ternyata benar terjadi dalam proses penuntasan kasus Century, maka itu adalah sebuah bentuk penkhianatan kepada negara dan rakyat. Dengan demikian supremasi hukum hanya menjadi slogan kosong dan retorika dalam pidato.

Betapa mungkin hukum ditegakkan dan kebenaran serta keadilan dijunjung tinggi, bila penyimpangan-penyimpangan hukum cukup diselesaikan lewat barter kepentingan. Dan lebih celakanya, yang dibarter itu tidak lain adalah perkara yang sesungguhnya harus diselesaikan secara tuntas secara hukum.

Juga jika itu benar terjadi, maka kita telah menciptakan kemunduran peradaban yang luar biasa. Kita kembali hidup di zaman primitif, saat masyarakat melakukan pertukaran barang dengan cara barter. Semoga saja memang itu hanya rumor. Tapi mari kita tunggu kelanjutan penyelesaian kasus Century. (*)

Tag: ,

Satu Tanggapan to “Zaman Barter”

  1. Singal Says:

    Kelihatannya bumi memang berputar…kita mau bilang apa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: