Pelecehan

Pelecehan! bukanlah hal baru, dan terjadi dalam keseharian kita. Namun, akhir-akhir ini kembali menjadi berita di berbagai media dengan beragam jenis. Ada Guru Spritual yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Bagi pengkritiknya, ia dianggap bukan siapa-siapa, pernah diduga melakukan penggelapan uang dan pelecehan agama, sekarang pelecehan seksual.
Namun, bagi pendukungnya, ia merupakan “sumber kearifan,” dengan berbagai filosofi kehidupan yang banyak dituangkan dalam berbagai bukunya. Meskipun bantahan demi bantahan telah dilakukan …
Pengenyampingan tuduhan tersebut karena ia dianggap sebagai seorang tokoh spiritual sangat menggelitik karena “kespiritualan” seseorang tidak secara otomatis membuatnya kebal terhadap perbuatan semacam itu. Emang ada yang bisa jamin? Dalam hierarki kekuasaan bukan kemustahilan ia dapat mengontrol murid-muridnya, termasuk dalam melakukan pelecehan seksual!

Media juga memberitakan adanya pelecehan seksual atasan terhadap bawahannya. Kasus serupa tak sedikit, lebih sebagai fenomena gunung es ketimbang muncul ke permukaan, bahkan ada yang “ditiadakan.”

Banyak yang enggan melaporkan karena seringkali perempuan disudutkan sebagai pemantik terjadinya pelecehan. Padahal pemantik bisa perempuan, bisa lelaki. Ketika kasus terungkap, perempuan malah mengalami second harassment dan tak jarang kasus dibelokkan sebagai kasus non-seksual guna “menyelamatkan” muka sang penguasa, agar ia tetap tampak sebagai manusia bermoral, sebagaimana penampakan luar kesehariannya, sehingga mudah mengelabui publik, bahwa dirinya pribadi yang innocent. Bukan main!

Kasus seorang artis atas dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dokter dalam lawatannya ke sebuah Rumah Sakit di Makassar adalah contoh lain. Bantahan tentu saja datang dari sang tertuduh, nothing happens! Apalagi performan kesehariannya tak menampakkan wajah peleceh. Ada argumentasi bahwa itu ekspresi kegembiraan fans terhadap sang artis. Ada pula anggapan bahwa itu risiko perubahan status dari selebriti ke legislator yang sulit dipisahkan. Imej negatif artis digeneralisir, dijadikan alasan legitimasi pelecehan.

Foto bareng boleh-boleh saja, memelesetkan pepatah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampau, tunggu dulu! Namun, apapun argumentasinya, tak peduli ia seorang artis, bawahan atau lainnya, tidak ada orang yang berhak melakukan pelecehan terhadap orang lain, perempuan ataupun lelaki.

Pelecehan tidak hanya terkait dengan seksual, tapi juga berhubungan dengan berbagai hal, termasuk institusi. Belakangan marak diberitakan tentang dugaan makelar kasus di tubuh Polri yang diungkapkan oleh seorang petinggi Polri . Bantahan demi bantahan diungkapkan, terutama oleh petinggi Polri lainnya yang disebutkan namanya.
Banyak yang mendukung , tak kurang yang melecehkan sepak terjangnya. dia bisa jadi pahlawan, bisa juga bagian dari permasalahan. Terlepas siapa yang bersalah atau tidak, yang jelas dia rame-rame diserang balik karena dianggap melecehkan institusi dan petinggi Polri, dengan label pencemaran nama baik.
Para jenderal leceh-meleceh masing-masing dengan argumentasinya. Perang antar-jenderal di dalam satu kesatuan mengindikasikan  kebobrokan di tubuh kesatuan tersebut. Ini merupakan peringatan untuk reformasi internal yang di mata publik memang lebih berimej negatif ketimbang positif.

Dalam kekuasaan, secara kultural, melekat semacam “fasilitas” untuk melecehkan, sehingga orang yang memiliki kekuasaan dianggap wajar-wajar saja jika ia melakukannya. Ketika orang melaporkan kasus pelecehan, itu juga menunjukkan kuasa yang bersangkutan.
Namun counter untuk melawan tuduhan pelecehan itu sendiri dapat dilakukan oleh sang pemegang kekuasaan. Dengan demikian, suatu perbuatan itu pelecehan atau tidak tergantung pada pemilik kekuasaan itu sendiri karena bisa jadi kekuasaan juga merupakan sumber pelecehan. Walah … bolak-balik gitu lho! (**)

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: