Koruptor dan Pencopet

Pencopet tak punya pendidikan. Koruptor punya pendidikan. Pencopet kalau lagi sial dikeroyok massa. Koruptor kalaupun ketangkap tetap dihormati. Begitu kurang lebih salah-satu cuplikan dialog dalam film Dedy Miswar, Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film itu menggambarkan sebuah fenomena khas negeri ini. Kekumuhan bertetangga dengan gedung-gedung mewah mencakar langit. Hiruk-pikuk rakyat kecil mencari uang untuk hidup, seperti penjual obat, pedagang kaki lima dan juga para copet, adalah pemandangan sehari-hari. Di antara mereka juga terdapat Syamsul, sarjana pendidikan yang jadi penganggur sehingga hanya bermain domino setiap hari di pos ronda. Juga ada Muluk, sarjana manajemen yang tempat kerjanya tutup sehingga terpaksa di-PHK. Sebenarnya kehidupan rakyat kecil itu amat memprihatinkan. Namun ada kelucuan-kelucuan juga di sana. Kelucuan-kelucuan itulah yang sekaligus mewarnai film itu. Kelucuan yang sebenarnya di baliknya ada nestapa dan haru. Kelucuan dalam nestapa yang jadi potret kehidupan sehari-hari kebanyakan rakyat negeri ini. Kelucuan film itu menjadi tontonan menarik ketika Muluk yang sarjana manajemen penganggur mengajak para pencopet bekerja-sama untuk sebuah cita-cita. Mereka diajak berubah, tapi tidak serta-merta, tidak drastis banting setir. Muluk mengajak para pencopet itu, yang kebanyakan anak-anak dan remaja, untuk mengorganisasi diri. Penghasilan mereka dari mencopet disisihkan 10 persen untuk saving dan juga biaya operasional, termasuk gaji untuk Muluk. Muluk menawarkan planning, suatu waktu mereka berubah, jadi pengasong lalu meningkat buka kios dan mengimpikan punya super market. Lalu para pencopet itu harus punya pendidikan. Jadilah dua sarjana pengangguran, Syamsul dan Pipit jadi guru para copet itu. Pak Makbul, yang pernah diberitahu anaknya, Muluk, bahwa ia bekerja di bagian Pengembangan SDM, akhirnya penasaran mau melihat kantor anaknya. Maka jadilah, Pak Makbul ayah Muluk, Pak Rahmat ayah Pipit, dan H Sarbini calon mertua Muluk, memaksa ikut Pipit melakukan semacam sidak. Hasilnya, mereka terperangah karena ternyata anaknya mendidik para pencopet dan uang yang dipakai anak-anak mereka untuk beli sosis, kopi dan gula yang mereka nikmati bersama adalah gaji dari uang copet. Mereka sangat terpukul telah menikmati hasik dari uang haram. Terlalu panjang untuk dituliskan dalam sebuah kolom. Enaknya film itu ditonton langsung, sebagai hiburan, terutama di saat kita merasa amat tidak nyaman oleh ulah para koruptor negeri ini. Adakah ulah dan kehidupan para koruptor negeri ini juga megandung kelucuan seperti para pencopet itu?

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: