Bangsa Makelar

Di negeri ini urusan apa yang tidak pakai makelar? Sulit dicari karena hampir tidak ada urusan tidak pakai makelar. Dalam jual beli tanah, rumah, mobil dan motor, sudah lumrah ada makelar. Orang sudah sama mengetahui dan mafhum. Yang ini tidak usah dibicarakan, Yang menarik kita cermati yaitu makelar dalam urusan yang sebelumnya tidak dibayangkan ada makelarnya.

Misalnya saja, beberapa waktu lalu di media heboh berita makelar kamar perawatan rumah sakit. Ketika itu diberitakan, di rumah sakit tertentu di Jakarta, dinyatakan tidak ada kamar yang kosong. Akibatnya, pasien yang sudah genting memerlukan rawat inap, harus berpikir mencari rumah sakit lain.

Di tengah keadaan seperti itu lalu muncul orang membisiki bahwa dia bisa usahakan dapat kamar, tapi harganya sekian, sambil menyebut angkan di atas tarif resmi. Nah, itu satu contohnya, orang sakit dimakelari. Orang sudah susah ditambah susah lagi.

Contoh lain adalah, makelar UN. Ini adalah makelar barang dan jasa yang tidak masuk daftar barang dagangan, tapi toh ada makelarnya. Soal UN yang konon asli, bisa disulap jadi barang dagangan dan ada makelarnya pula. Mengenai yang satu ini, selalu dibantah mati-matian oleh pihak yang berkompeten, tapi faktanya selalu ada.

Kalau tadi adalah contoh di bidang pendidikan, dalam urusan ibadah pun ada makelar yang selalu menawarkan “jasa”, misalnya menawarkan seat haji tidak perlu pakai dafar tunggu. Bahkan untuk bisa mencium hajaratul aswad di Kakbah, sejumlah makelar menawarkan jasa dan orangnya dari negeri ini.

Jangan lagi dibilang makelar kasus, sekarang semakin terungkap begitu banyak ragamnya. Gayus , hanya satu contoh kecil, bagaimana makelar pajak bekerja sebagai perantara meringankan (baca: memanipulasi) pajak para pengemplang pajak.

Padahal itu baru satu Gayus yang terbilang anak kemarin sore. Itu baru ujung kukunya, menurut istilah Susno Duadji. Lalu bagaimana pula di seantero kantor pajak? Di bea cukai? Di seantero kantor keuangan? Di seantero departemen di negeri ini, berapa banyak “Gayus”nya. Ngeri membayangkannya.

Makelar Maut , Sebagai penutup kita tambah satu lagi cerita makelar kita, yaitu makelar dalam urusan maut. Kalau contoh tadi orang sakit dimakelari, di negeri ini orang mati pun dimakelari. Khususnya di kota besar yang sulit dapat tanah kuburan. Tidak usah khawatir urusan bisa jadi mudah, tapi melalui makelar.

Ternyata permakelaran di negeri ini menjadi menarik sekali untuk dicermati, dipikirkan dan direnungkan dalam-dalam. Permakelaran sudah merambah ke mana-mana, bahkan sudah masuk ke wilayah yang seharusnya tidak perlu ada makelar. Itulah fenomena di sebuah negeri di mana orang mau serba enak secara singkat dan serba instan. (*)

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: