Mafia Markus

Siapa Paling Mafia di antara Mafia Markus

“…bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dengan mereka?”

ALKISAH, seorang raja pada zaman Rasulullah saw, suatu ketika melakukan pengembaraan. Ia kemudian sampai di antara dua gunung. Di belakang kedua gunung tersebut, dia menemukan suatu kaum yang tidak memahami pembicaraan. Mungkin sebangsa masyarakat terasing sekarang, yang hidup berkelana dan primitif di hutan.

Kaum tersebut ternyata mengetahui kalau yakjuj dan makjuj itu makhluk yang membuat kerusakan di bumi. Karena tidak senang kepada perusak bumi tersebut, ia pun minta bantuan raja (Zulkarnain) untuk dibuatkan dinding pemisah di antara gunung, dan bersedia memberikan imbalan.

Tapi, dalam Alquran, Zulkarnain berkata, “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan agar dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka (QS Al-Kahf 95).

Kisah di atas dapat diinterpretasikan bahwa fenomena suap-menyuap dan korupsi sudah ada sejak dulu. Barangkali nilai, frekuensi, dan letupannya yang berbeda. Korupsi sekarang sudah meletup-letup. Bahkan ada indikasi sudah menjadi “pekerjaan pokok”. Bayangkan jika seorang pegawai Ditjen Pajak, Gayus Tambunan (golongan III/A) dapat korupsi Rp 25 miliar. Berapa kali lipat dari gajinya sebagai PNS Rp 12 juta per bulan?

Paling Mafia , Ternyata, kasus Gayus memunculkan adanya mafia. Kedok itu, terungkap setelah Susno membeberkannya di media. Apalagi Gayus bebas dari segala dakwaan jaksa di pengadilan.

Dari situlah dapat terungkap bahwa hampir semua aparat hukum dan pegawai petinggi Ditjen  Tukang Pajak yang berkaitan dengan kasus itu terlibat. Tak terkecuali advokat. Muncullah istilah mafia hukum, mafia pajak, dan mafia kasus (markus). Tinggal muncul pertanyaan, “Siapa yang paling mafia di antara mafia?” “Atau, siapa maling teriak maling?”

Itu (mungkin) tidak penting. Yang penting, masih adakah aparat hukum yang dapat menjadi pelindung bagi pencari keadilan? Ini sebenarnya pertanyaan klasik yang sejak dulu selalu dimunculkan dalam setiap kali timbul penyimpangan hukum. Dan, ternyata masih banyak penegak hukum yang baik.

Kini, pertanyaan klasik itu sudah perlu dibalik menjadi pertanyaan kontemporer, “Masih adakah pencari keadilan yang mau mencari keadilan pada penegak hukum?” Wah, gawat! Kalau ini yang terjadi, mau ke mana (dikemanakan) aparat penegak hukum sekarang ini?

Tentu, atau mungkin ada yang berpandangan: Bubarkan saja lembaganya! Karena kalau tidak, ibarat virus di komputer, akan merusak sistem jaringan. Virus yang ada dalam mafia hukum saat ini sudah parah sekali. Menurut pengacara senior, M Assegaf, kalau tidak ada Susno Duadji yang meniup peluit, mungkin mafia itu tak akan terungkap.

Sumber Hukum, Sesungguhnya, lembaga penegak hukum tidak perlu menjadi titik masalah. Karena yang membentuk mafia adalah oknumnya. Bukan lembaganya. Kalau ada jenderal yang disebut-sebut terlibat dalam kasus pajak, itu bukan jenderal dan lembaga jenderal itu, tapi oknumnya.

Oknum ini masih dapat diobati. Kalau dia sakit mafia hukum, ya diberikan obat antimafia hukum. Siapa tahu cocok, maka mungkin dia akan sembuh. Jangan dia diberi obat maag, karena pastilah tidak dapat sembuh.

Ahmad Qarib (1997), seorang pakar hukum Islam mengatakan, sumber dalam Alquran yang berkaitan dengan hukum sekitar 500 ayat. Sedangkan sunnah antara 3.000 sampai 4.000 hadis. Semuanya hadis sahih.

Tapi tidak diketahui apakah nash tersebut ada yang menyinggung mafia kasus atau tidak. Yang jelas bahwa dalil-dalil tersebut sangat terbatas dibanding permasalahan hukum yang semakin berkembang.

Mafia itu muncul karena adanya perubahan sosial. Menurut Qarib, perubahan sosial merupakan suatu gejala yang normal dalam kehidupan masyarakat. Perubahan itu dapat mengenai pada nilai-nilai, kaidah-kaidah, perilaku, organisasi-organisasi, struktur lembaga-lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan, dan interaksi sosial.

Selo Sumarjan, juga memandang begitu. Bahwa, katanya, perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap-sikap, serta perilaku dalam kelompok masyarakat.

Pada tingkat tertentu hukum harus menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di bidang lain, sebab hukum merupakan lembaga sosial yang berhubungan dan saling memengaruhi dengan lembaga sosial lain.

Akan tetapi dalam keadaan lain, unsur-unsur dalam struktur sosial menyesuaikan diri dengan hukum. Gejala ini merupakan bagian dari proses sosial yang terjadi secara menyeluruh.

(Siapa Paling Mafia di antara Mafia – Sabaruddin Helloe – fajar co.id)

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: