Indonesia vs Cina

Selalu ada pertanyaan yang mengusik pikiran kita jika berada di China; kapan mereka selesai membangun dan untuk apa semua ini?
Dari Guangzhou ,melalui jalan darat menuju ke Shenzhen sebelum menyeberang ke Hong Kong , dan dari kawasan Guangzhou baru yaitu dari lantai 29 The Ritz Carlton, kita dapat melihat hutan gedung pencakar langit yang tak berujung dan pembangunan yang tiada henti. dan bila kita berjalan darat dengan mobil menuju ke Shenzhen dan rasanya kota dengan gedung pencakar langitnya tak pernah berakhir.
Cahaya lampu terang benderang di semua lini jalan bebas hambatan. Kemegahan memang milik China. Ketika ribuan abad sebelumnya mereka telah membangun tembok China dan kota terlarang. Dan jika terus dipikir bahwa akselerasi peradaban manusia ada di kawasan ini. Dari banyak tulisan , Shenzhen bermula dari hasrat China untuk menyaingi China duapuluh tahunan yang lalu. Kini mereka sudah berada sejajar, ketika ambisi menjadikan Batam menyaingi Singapura
makin jauh terpuruk.
*****
Apa yang terjadi di kawasan Guangzhou adalah gambaran pembangunan fisik yang begitu masifnya dan mengingatkan saya tentang tiang monorail di Jakarta yang tak pernah selesai-selesai.
Keajaiban China tak hanya dalam urusan fisik tetapi juga dalam urusan teknologi informasi yang begitu hebatnya. Di kawasan Lou Ho -Ipad tiruan dijual dengan harga seratusan dolar Amerika. Bila mencoba membandingkannya dan merasa lumayan. China agaknya membiarkan adanya pelanggaran hak cipta di mana-mana dan barangbarang imitasi menjadi daya tarik tersendiri orang datang ke China.
Indonesia tentu harus bangga dengan dirinya sendiri. Indonesia sukses membangun dengan cara Indonesia. Namun melihat kemajuan bangsa lain hendaknya bukanlah sesuatu yang tabu. Dari informasi yang ada, hampir setiap minggu ada studi-banding dari pemda atau DPRD se-Indonesia. Namun sementara baru sampai ke tataran terpesona.
******
Kita memang terlalu banyak dihentakkan dengan berbagai gempa. Gempa alam dan bahkan yang dibuat manusia sendiri. Perhatian kita tersedot dengan begitu banyak urusan. Energi kita dihabiskan oleh urusan Ariel-Luna hingga masalah Anggodo.
Seorang pakar menuliskan, di tengah kehidupan yang makin masif, teknologi begitu berjaya dan jadi magnet peradaban. Kemajuan teknologi informasi menjadi arus deras yang tak dapat dibendung dan menghegemoni pola pikir manusia. Lantaran kecanggihan teknologi, masyarakat mabuk kepayang mengonsumsi informasi.
Orang-orang di sudut kampung pun tak ketinggalan mengikuti dimensi behaviorisme teknologi. Pemberitaan media massa, terlebih televisi, telah membangkitkan voyeurisme di masyarakat. Tanpa kita sadari, revolusi internet mempermudah akses untuk segala jenis gosip dan isu yang membuat kita melupakan banyak hal.
Akibat teknologi, pergeseran nilai di masyarakat kian mengkhawatirkan. Masyarakat kehilangan pegangan dan berada ditengah pusaran kebingungan tentang standar nilai, norma, hukum, dan batasan. Kecanggihan teknologi telah membawa masyarakat ke arus westernisasi dan liberalisasi di segala lini kehidupan. Tak ayal, tatanan dan nilai-nilai masyarakat negeri ini menjadi terganggu. Terlalu banyak energi kita habiskan untuk banyak hal yang harusnya diselesaikan satu dua orang atau instansi, tetapi menjadi beban semua kita. Maka begitu banyak agenda pembangunan fisik dan manusia menjadi terganggu. Terlalu banyak kepusingan dan mereka yang tidak berpunya dan kurang beruntung, juga tidak mengalami perbaikan. Mungkin kita harus mencari jawabannya. Dan mungkin, memang bukan di China tempatnya.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: