Saling tuding

Pekan lalu (pertengahan Juli 2010) adalah pekan saling tuding. Pemerintah menuding pengusaha memanfaatkan kesempatan dengan menaikkan margin keuntungan setinggi-tingginya.Pengusaha menuding PT PLN dan pemerintah salah hitung dalam menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL).
Produsen menyalahkan pedagang melakukan spekulasi harga. Pedagang menyalahkan produsen karena menurut mereka asal bicara. Pedagang tidak merasa melakukan spekulasi harga, bahkan justru produsenlah yang menaikkan harga secara semena-mena.
Yang lucu adalah anggota dewan kita. Mereka yang menyetujui kenaikan TDL, mereka menuding pemerintah dan PT PLN. Seolah lembaga legislatif tidak memiliki “dosa” telah meneken kenaikan TDL yang menjadi pemicu melambungnya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat. Padahal DPR sudah diperingatkan berbagai lembaga dan media bahwa jika mereka meneken, inflasi akan melambung. Harga kebutuhan pokok semakin tak terbeli rakyat. DPR juga sudah diperingatkan bahwa tanpa penghapusan subsidi listrik sebesar Rp 5,5 triliun itu, APBN akan baik-baik saja.
Defisit anggaran juga sifatnya semu. Buktinya, tingkat penyerapan anggaran belanja tahun ini masih sangat rendah. Ratusan triliun rupiah anggaran belanja pemerintah, masih nganggur di rekening
Departemen Keuangan. Toh PT PLN dalam kondisi kelistrikan seperti itu, masih bisa untung lebih dari Rp 10 triliun.
Berbagai kajian menegaskan, bahwa dampak kenaikan TDL pada produk makanan, memicu kenaikan harga antara 20-25 persen. Yang jelas ibu rumah tangga yang paling merasakan bagaimana kenaikan harga cabai, daging ayam, telur, dsb, yang akhir-akhir ini melambung lebih dari 25 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun ini melansir sebuah berita resmi yang menegaskan bahwa pengaruh kelompok bahan makanan terhadap tingkat kemiskinan, khususnya di perkotaan, sangat besar dibanding kelompok barang lainnya seperti telekomunikasi, perumahan dan sandang. Pengaruh kenaikan harga kelompok bahan makanan, menurut BPS, sekitar 73,6 persen dari semua penyebab
yang menempatkan orang dan atau keluarga berada di bawah garis kemiskinan. Hingga Maret 2010, jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 11,1 juta orang. Angka ini menurun 180 ribu
orang dibanding tahun sebelumnya. Namun orang-orang yang sedikit di atas garis kemiskinan ini rawan untuk menjadi miskin kembali.
Mereka yang sehari bekerja dan tiga hari menganggur itu, tak memiliki pendapatan tetap. Memang rekening listriknya tidak naik, namun daya beli untuk belanja dapurnya kian menurun. Di perdesaan,
harga satu kilogram beras petani juga tidak bisa lagi untuk membeli sebungkus rokok.
Persoalan listrik bukanlah sekadar persoalan TDL. Seharusnya HPP listrik bisa Rp 860/KWh dan rakyat tidak harus membayar sebesar Rp 1.237/KWh seperti sekarang. DPR dan pemerintah tidak pernahseriusmemikirkanpersoalankelistrikanini. Penggantianmesin pembangkit yang berbahan bakar solar menjadi gas dan batubara, tak pernah serius direncanakan. Kalau ada masalah kelistrikan, pilih
gampangnya saja; naikkan TDL, hapus subsidi. Tidak mau sedikit berpikir dan bersusah payah memperbaiki kehidupan masyarakat.
Jika sudah demikian, adanya saling tuding dan saling salahkan. Jika sudah demikian, isu ini dijadikan komoditas politik. Anggota Dewan sadarlah, belum terlambat untuk merevisi keputusan ini.
Yang pasti mereka menyadari bahwa Rakyat Makin Miskin

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: