Rumah Aspirasi

Pertanyaannya, apakah dengan mendirikan rumah aspirasi semua persoalan aspirasi rakyat yang tidak sampai itu sertamerta dapat teratasi? Jangan-jangan ide ini hanya nafsu aspirasi anggota DPR dengan mengatasnamakan rakyat?Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) selalu bertindak atas nama rakyat. Aspirasi rakyat seolah menjadi senjata ampuh untuk menentukan arah kebijakan. Apalagi kalau kebijakan yang berhubungan dengan uang/anggaran. Meski mengatasnamakan rakyat, arah kebijakan itu acap tidak seluruhnya sampai kepada rakyat.
Bukti nyata, janji kepastian kesejahteran kehidupan rakyat, sampai detik ini masih menyisahkan cerita pilu tersendiri
bagi rakyat.
Setelah kandas mengusulkan dana aspirasi Rp 15 miliar per anggota DPR, kali ini, atas nama rakyat pula, DPR memunculkan ide rumah aspirasi (constituency office)―mencontek parlemen di Jerman dan Prancis. Alasannya, aspirasi rakyat yang terus dipekikkan selama ini acap tidak sampai pada kekuasaan.
Apalagi, bagi mereka yang jauh dari pusat Ibu Kota. Seakan, suara-suara rakyat itu hanya jeritan semata yang tidak pernah terealisasi.
Untuk itu, tiap anggota DPR diusulkan akan mendapat dana Rp 200 juta per tahun untuk membuat rumah aspirasi. Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR mengungkapkan, pagu anggaran untuk rumah aspirasi mencapai Rp 112 miliar dan sudah disahkan.
Malah, saat ini BURT sudah membentuk panitia kerja (panja) untuk membahas pembangunan rumah aspirasi itu.
Jika tidak ada masalah yang berarti, rumah aspirasi itu akan mulai dibangun pada 2011, tahun depan.
Rumah aspirasi dipandang penting agar hubungan antara anggota DPR dengan konstituennya semakin erat. Rumah aspirasi dijadikan sebagai kantor pengaduan dan sebagai tempat pertemuan antara anggota dengan pemerintah daerah setempat.
Selama ini, kunjungan anggota DPR tidak difasilitasi Setjen DPR, sehingga DPR acap bingung memilih tempat saat bertemu konstituennya.
Selain itu, rumah aspirasi juga bisa dijadikan fasilitas pertemuan dengan pemda, sehingga mereka bisa langsung menyampaikan keluhannya.
Rumah aspirasi tidak sekadar menampung aspirasi dari daerah saja, tetapi juga menjadi media yang bisa menyiapkan data dan informasi di daerah yang perlu diperjuangan di tingkat pusat.
Ringkasnya, rumah aspirasi memiliki peran edukasi, advokasi dan lobi-lobi terhadap kebijakan- kebijakan daerah yang
berhubungan dengan pusat.
Selama ini, memang ada kesan komunikasi antara anggota DPR, DPRD, maupun pemerintah daerah kurang optimal dan
kurang terbuka. Anggota DPR di pusat sangat sulit disentuh oleh konstituennya di daerah.
Pola penyerapan, penghimpunan, penampungan dan tindak lanjut aspirasi masyarakat tidak jelas, sehingga banyak harapan masyarakat dan agenda daerah yang tidak tersalurkan dalam pembuatan kebijakan di tingkat nasional. Kendati begitu, apakah dengan mendirikan rumah aspirasi semua persoalan aspirasi rakyat yang tidak sampai itu serta-merta dapat teratasi? Jangan-jangan ide ini hanya nafsu aspirasi anggota DPR dengan mengatasnamakan rakyat? Menilik kondisi keuangan negara yang kembang-kempis dan kiprah anggota DPR yang payah selama ini, pengusulan rumah aspirasi yang mengeruk miliaran rupiah uang rakyat, kiranya tidak patut diajukan.
Bukankah anggota DPR bisa menyerap aspirasi masyarakat yang sudah tersebar luas di media massa (cetak dan elektronik), selebaran hingga unjuk rasa. Mereka tidak perlu repotrepot selalu datang ke daerah dan membuat rumah khusus untuk menyerap aspirasi masyarakat. Hampir tiap hari masyarakat dari berbagai pelosok tanah air mendatangi gedung dewan untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi, apa yang sering terjadi? Aspirasi mereka jarang ditanggapi. Anggota DPR tetap membuta tuli, hanya bisa menjual nama rakyat untuk kepentingannya sendiri! Kalau pun pada akhirnya anggota DPR harus membangun rumah aspirasi di daerah pemilihannya, rumah itu tidak perlu didanai oleh APBN, tetapi oleh anggota DPR itu sendiri! Gaji dan fasilitas yang mereka dapatkan dari negara kan luar biasa jumlahnya? Dalam konteks ini, mungkin anggota DPR patut mencontoh apa yang dilakukan oleh empat Anggota DPR RI lainnya dari Fraksi PDIP Dapil Sumut, yakni Panda Nababan, Trimedya Panjaitan, Yasona Laoly dan Tritamtomo, yang mendirikan rumah aspirasi rakyat di Medan, pertama di Indonesia.
Rumah tersebut juga merupakantempat bernaungnya108 anggota DPRD ProvinsiSumut dan Kabupaten/Kota se-Sumut asal PDIP. Rumah itu   dilengkapi dengan buku-buku  perundang-undangan untuk dapat dipelajari. Bagusnya lagi, rumah aspirasi itu lengkapi dengan fasilitas teknologi informasi dan 14 orang staf yang cukup andal guna melayani aspirasi masyarakat yang masuk. Segala permasalahan di daerah bisa diakses di rumah itu dan secara berkala akan berkoordinasi dengan keempat anggota DPR RI itu dalam menampung aspirasi masyarakat untuk dibahas di rapat fraksi dan komisi.
Rumah aspirasi itu dikontrak awal tahun ini. Mereka mengontrak sebuah rumah seharga Rp 30 juta per tahun selama 6
tahun. Dari segi rupiah, kalau nominal itu dibagi empat, mereka cukup merogoh kocek Rp 7,5 juta saja per tahunnya. Irit bukan? Alhasil, dengan biaya murah, aspirasi rakyat bisa diserap dengan baik tanpa harus membebani kas negara.
Oleh karena itu, janganlah anggota DPR mengatasnamakan rakyat lagi untuk suatu program yang belum tentu manfaatnya bisa dirasakan oleh rakyat, apatah lagi dengan mengeruk APBN yang tidak sedikit. Rakyat sudah cukup susah dengan kemiskinan yang masih betah di negeri ini. Rakyat juga sudah letih melihat tingkah polah anggota DPR yang kerap membolos. Sepatutnya, anggota DPR mengusulkan program dan membuat legislasi yang memang menyentuh langsung kehidupan rakyat dari pada mengusulkan rumah aspirasi yang justru tidak aspiratif. Aspirasi Atas Nama Rakyat DPR kembali mengusulkan program “atas nama rakyat”; rumah aspirasi.
Pertanyaannya, apakah dengan mendirikan rumah aspirasi semua persoalan aspirasi rakyat yang tidak sampai itu sertamerta dapat teratasi? Jangan-jangan ide ini hanya nafsu aspirasi anggota DPR dengan mengatasnamakan rakyat?

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: