Menanduk Tanpa Tanduk

Menanduk Tanpa Tanduk
Seekor tedong (kerbau) selalu siap siaga menghadapi lawannya. Sang tedong segera menunduk sebelum menanduk. Menunduk-nunduk bukan berarti gentar atau gamang menyaksikan kesigapan musuh di depannya. Lawannya juga merasa waswas bercampur cemas menyaksikan sikap tedong yang menunduk seakan-akan merasa minder atau inferior. Lawannya yakin bahwa sikap menunduk bukanlah sikap inferior atau rendah diri, melainkan semacam diplomasi dalam ungkapan si vis pacem, para bellum yang berarti jika ingin damai siapkan perang.
Menunduknunduk menandakan sikap siap tempur dengan menanduk lawannya jika terjadi duel fisik. Tanduknya yang kokoh dan tajam dapat menembus perut lawan yang segera menghamburkan seluruh isi perut bercampur darah. Biasanya lawannya mundur teratur karena kalah diplomasi. Ya, diplomasi yang tampak rendah hati dengan menunduk, namun siap menanduk yang siap pakai. Semakin rendah tundukannya, semakin kuat daya penetrasi tandukannya.

Diplomasi pemerintah Indonesia menghadapi Negara Jiran Malaysia bagaikan tundukan tedong tanpa tanduk yang dapat menggertak lawan diplomasi. Pemerintah Malaysia dengan sangat mudah bisa membaca diplomasi datar, tawar, dan kurang bernyali sebagaimana tersurat dan tersirat . Tak terkesan ada tanduk penggertak dalam diplomasi yang penuh kehati-hatian yang diucapkan SBY.
Seharusnya ada gertakan sungguhan dengan dukungan nyata yang menyebabkan pemerintah dan rakyat Malaysia berpikir serius menghadapi tanduk Indonesia yang sewaktu-waktu dapat menanduk.
Namun, mungkin di balik ucapan-ucapan politik pemerintah Malaysia melalui Menlu dan Perdana Menterinya, mereka yakin bahwa diplomasi Indonesia hanyalah semacam tundukan kerbau tanpa topangan tanduk kokoh dan tajam yang siap menanduk hancur siapapun yang ingin menantang.

Kita merasa prihatin bercampur seribu satu macam tanda tanya menyaksikan demo-demo di tanah air yang cenderung eksesif.
Menginjak-injak dan membakar bendera Malaysia dan bahkan melemparkan tinja (faeces) ke Kedubes Malaysia bukanlah perbuatan heroik yang pantas dibanggakan. Namun, peristiwa demikian terjadi
karena keterlambatan reaksi yang memadai oleh pemerintah RI.
Pemerintah terkesan sangat lamban, kurang responsif, dan bahkan bergaya biar lambat asal kelakon menghadapi sikap dan perbuatan Malaysia yang sudah mencederai martabat dan harga diri kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Reaksi berlebihan warga kita hanyalah kompensasi atau bahkan aksi protes terhadap sikap pemerintah kita yang reaktif, banci, dan lamban.
Pemerintah diharapkan dapat mengubah sikap yang selalu reaktif karena wait and see sebelum bertindak ala kadarnya. Bertindak ala kadarnya sama dengan bertindak asal-asalan sesudah pemerintah mengetahui dan memahami reaksi luas masyarakat yang kecewa .  Lahirlah rasa kecewa berat , meski tak diharapkan, menjadi kenyataan dalam pidato. Pidato SBY terasa kurang sepadan dengan diplomasi angkuh dan kurang santun dari pemerintah Malaysia.
Kelemahan yang terang benderang dalam diplomasi kita,  seharusnya segera ditutuptutupi dengan rentetan aktivitas, baik di dalam negeri, maupun di area perbatasan dengan Malaysia. Berbagai aksi dan aktivitas pemerintah dan masyarakat harus berfungsi sebagai pemasangan tanduk-tanduk kokoh dan tajam yang mem-back-up diplomasi yang konon bertata krama yang hendak dibangun. Tanpa up-backing politik, militer, dan ekonomi yang kuat, maka kita hanyalah barisan tedong gemuk dengan tanduk-tanduk karet yang terus menunduk lunglai.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: