Juara Peras Handuk

Juara Peras Handuk
Ada joke tentang pertandingan peras handuk tingkat internasional. Pesertanya dari banyak negara di dunia. Yang diperas yaitu handuk basah. Siapa yang berhasil memeras handuk sampai benar-benar kering, dialah pemenangnya. Peserta dari negara-negara lain semuanya tampak meyakinkan. Postur tubuhnya rata-rata seperti binaragawan. Sedangkan peserta dari  Indonesia amat tidak meyakinkan, badannya kecil tidak berotot.
Tapi tidak disangka, ternyata juaranya dari Indonesia. Lalu ketika naik panggung menerima piala, sang juara diminta  berkomentar. Dia lalu berkata dengan bangga: “Sejak awal aku sudah yakin akan menang, sebab urusan peras-memeras memang negeriku jagonya.”
Joke di atas sebenarnya sebuah olok-olok. Entah siapa yang menciptakan joke olok-olok itu. Yang jelas, ia mengandung sebuah kritik tentang berurat berakarnya korupsi dan kebiasaan memeras di negeri kita ini.
Pemerasan memang sudah bukan lagi cerita baru. Mulai dari bentuknya yang paling kasar sampai modusnya yang paling halus, pemerasan terjadi di mana-mana. Ada pemerasan yang namanya palak, ada juga yang namanya “uang jasa”, uang administrasi, sogok dan macam-macam lagi lainnya.
Di negeri ini, hati-hatilah hidup, jangan sampai terjerat urusan hukum, sebab bisa jadi objek pemerasan. Malah ada joke lain, katanya di negeri ini kalau kita lapor kehilangan seekor kambing, ongkos mengurusnya adalah seekor sapi. He… he…ongkosnya lebih besar karena dijadikan objek pemerasan.
Ketika Pak Kiai ditanya tentang uang pemerasan, maka jawab beliau itu tidak berkah. Bagaimana tidak berkah itu? Uang atau harta tidak berkah (karena diperoleh dengan cara tidak benar), bisa saja jumlahnya banyak, tapi tidak manfaat. Malah sebaliknya mengundang bencana, lambat atau cepat.
Bisa jadi, misalnya, orang memperoleh uang Rp10 juta dengan cara memeras. Ia bersiul-siul gembira merasa ada tambahan uang yang dia namakan rezeki nomplok. Tapi, satu dua hari atau satu dua bulan, atau malah satu dua tahun kemudian, ia terjerat satu masalah, yang ongkosnya sepuluh kali lipat dari uang perasannya.
Andaikata dibukakan peta hubungan sebab-akibatnya yang sudah bercabang-cabang sangat kompleks, maka akan ditemukan hubungannya yang jelas dengan pemerasan yang pernah dilakukan.
Nah, itu contohnya tidak berkah kata Pak Kiai.
Jadi memeras itu tidak berkah. Memeras itu termasuk korupsi juga. Jangan merasa gembira jika setelah memeras (dengan cara kasar maupun halus) lalu tidak berurusan dengan hukum. Nanti akan ada akibatnya. Paling kurang hati nurani sendiri yang menghukum, dalam bentuk deraan perasaan bersalah yang berkepanjangan. Lalu perasaan bersalah itu akan terus muncul berseliweran mendera jiwa kita menjadi rasa takut dan ngeri saat sakaratul maut. Betapa ngerinya.
Mari kita merasa takut atau merasa malu melakukan pemerasan.
Satu alasannya yang paling sederhana, jangan sampai negeri kita terus-terusan diolok-olok dengan cerita seperti tadi, dan kita lalu jadi malu sendiri.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: