Belajar dari Binatang

Belajar dari Binatang
Menipu, dusta, korupsi, munafik, bermuka dua, mencuri, dan merampok hanya dikenakan pada manusia. Binatang, entah anjing, kucing, dan tikus, hanya secara analogis dinyatakan mencuri. Anjing dan manusia sama-sama mencuri, namun pada hakikatnya hanya manusialah yang mencuri karena dilakukannya dengan sadar.

Karena dengan sadar manusia mencuri, maka dinyatakan bersalah dan harus dihukum. Anjing tidak bekerja atau mencari nafkah untuk hidup, melainkan melakukan apa saja demi hidup. Dia makan sesuatu dengan melakukan perbuatan yang di mata manusia dipandang sebagai mencuri.

Sesungguhnya anjing tak pernah mencuri, tetapi secara instinktif melakukan sesuatu (mencuri dalam konteks analogis) sesuai hukum alam dalam dirinya demi hidup.

Adalah keliru jika manusia yang merampok dan membunuh disamakan dengan binatang karena tak ada hubungan makna kejahatan membunuh yang dilakukan manusia dan makna di balik harimau hutan yang memangsa manusia atau hewan ternak milik penduduk desa karena habitatnya sudah dirusak.

Demi hidup, harimau memangsa manusia atau serigala memangsa sesamanya (homo homini lupus) dan ikan buas memangsa sesamanya (sianre bale) sebagai keharusan alamiah demi survive dan bertahan hidup.

Seharusnya di balik pernyataan, bukannya manusia saling membunuh sebagai serigala yang saling memangsa, melainkan serigala saling memangsa seperti manusia yang saling membunuh. Janganlah binatang dihina, dinista, dan bahkan difitnah dengan menyamakannya dengan manusia yang jahat. Harimau dinyatakan binatang buas bukan karena salahnya, melainkan karena kodrat alamiahnya.

Justru manusialah yang harus banyak belajar dari gaya hidup tertentu dari binatang yang secara instinktif menunjukkan perilaku mulia yang harus ditiru oleh manusia yang berakal budi, berkemauan bebas, dan berhati nurani atau berkalbu. Betapa banyaknya anjing jenis herder yang disebut juga Saint Bernard’s dogs yang telah menolong ribuan orang yang terperangkap di tengah gumpalan salju dan es.

Betapa banyak induk ayam yang memberikan makan anak-anaknya tanpa mengutamakan rasa laparnya sendiri. Sesudah kenyang, anak-anaknya diselimutinya di bawah kehangatan sayap-sayapnya. Betapa burung pelikan melukai dadanya sehingga mengucurlah darah sebagai pengganti air susu bagi anak-anaknya untuk bertahan hidup sambil menunggu tibanya musim semi. Ketika musim semi tiba, anak-anaknya sudah mampu terbang, sedangkan sang induk akhirnya mati kehabisan darah karena cinta.

Secara mencolok, kita harus belajar dari kesiapan dan keikhlasan hewan-hewan yang menjadi kurban sebagai simbol kurban pengganti putra Ibrahim (Abraham) dalam kisah suci anutan kaum Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Di balik makna yang terkesan absurd, Allah telah menjadikan hewan kurban sebagai simbol yang mengandung makna yang tulus dari kasih sejati yang ditunjukkan Ibrahim kepada Allah yang disembahnya. Bagaimanakah ketulusan kasih kita kepada Allah di depan tumpahan darah kurban-kurban yang memang tak punya dosa karena tak pernah berbuat dosa sebagai hewan.

Mampukah kita menjadi korban penganiayaan, korban penderitaaan, bahkan korban nyawa sekalipun demi kebenaran, demi kejujuran, demi kemanusiaan, dan keadilan yang didasarkan pada kasih setia kita kepada Allah semata sebagaimana kasih setia Ibrahim kepada-Nya.

Mari kita belajar dari makna kurban di dalam suasana Idul Kurban. Seharusnya, kita malu dari hewan-hewan yang seakan-akan pasrah menjalankan perannya sebagai kurban pengganti manusia yang seharusnya dikorbankan karena semakin jauh hidupnya dari sifat-sifat Ilahi yang telah tertanam di dalam dirinya sebagai manusia ciptaan Allah.

Adalah wajar jika manusia menjadi kurban seperti hewan, ketika tak mampu lagi menjadi manusia. Dengan kembali menjadi manusia sejati, dan bukan hanya berupa manusia, kita bangun negeri ini menjadi negeri yang keberkahan karena dikasihi Allah. (@ Ishak Ngeljaratan)

sisi jeleknya, Manusia jauh lebih jelek dari binatang, dari sisi baiknya, manusia masih mau belajar dari binatang

 

Belajar dari Binatang
“Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapatpelajaran yang penting bagi kamu …. ” ( Al Mukminun 21 ). Sudah pasti yang kita ambil sebagai pelajaran ialah sifat yang positif saja.

Dalam satu hadis, Rasulullah SAW. menerangkan : ” Kehidupan seorangmukmin itu laksana burung, berangkat pagi dengan perut kosong, pulangsore dengan perut kenyang “. Lalu apa rahasia keberhasilan satwa ini ?.Pertama, dalam segala musim, entah musim penghujan atau kemarau, merekaselalu bangun sebelum waktu subuh. Kedua, begitu bangun langsungberkicau. Dalam bahasa agama mereka berzikir. Ketiga, mereka rajinbekerja. Tidak pernah kita saksikan seekor burung berlama-lama hinggapdan berterngger pada dahan atau ranting pohon. Keempat, mereka tidakserakah. Walaupun menemukan rezeki yang banyak, tapi tidak pernahmembawanya pulang ke sarang. Mereka sangat yakin dengan jaminan dariAllah untuk rezeki esok harinya. Kelima, mereka sangat disiplin.Sebelum malam sudah pulang kesarang.

Simak pula kehidupan lebah. Ada beberapa hal yang patut kita teladanidari binatang ini. Pertama cara membuat rumah dan membina rumah tangga,kedua cara mencari rezeki dan ketiga cara membawa diri dalam pergaulan.

Lebah sangat disiplin mengikuti perintah Allah. Sesuai firman Allahdalam surah lebah , maka mereka membuat sarang di gunung, dipohon-pohon besar dan atau di rumah lebah yang dibangun manusia. Dengandemikian mereka relatif aman. Dalam soal mencari rezeki, mereka mencarimakanan bukan hanya yang enak, tetapi juga bersih dan bermutu. Pilihanini merupakan pilihan yang disenangi Tuhan. Dan makanan yang dimakannyacocok bagi tubuhnya serta tidak merusak libngkungan. Lebah memilikisifat tidak mau diganggu dalam hidupnya. Tetapi sepanjang hidupnya itumereka sepenuhnya bermanfaat bagi mahusia dan lingkungan. Antara lainmemberi madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia danmengawinkan putik sari bunga-bunga sehingga menjadi buah.

Dalam Al Quran ada juga surat semut .( An Namal). Semut, adalahserangga yang senang makan yang manis-manis, . Tetapi tidak pernah sakitkencing manis. Mengapa ?. Pertama mereka senang menjalin silaturrahmi. Setiap ketemu, saling mengucapkan salam dan menyampaikan pesan .Indikasinya, kepalanya selalu tampak bertemu. Rasul SAW. bersabda : “Barang siapa yang senang dipanjangkan usianya dan dimurahkan rezekinyahendaklah ia senang menjalin tali persaudaraan ( silaturrahmi ) “..Kedua, mereka tidak mau makan sendiri. Setiap menemukan rezeki, selaludiberi tahu kepada teman-temannya. Setelah berkumpul baru makanan itudibawa ke satu tempat untuk dinikmati bersama. Ketiga, semut selalubergerak sangat cepat ( berlari ). Dengan demikian zat gula di dalamtubuhnya tidak sempat menumpuk. Diantara kesuksesan semut ujar Dr.’AidhAl Qarny dalam bukunya DEMI MASA, ialah karena mahkluk ini tekun danrajin bekerja keras. Semut senantiasa mengulangi usahanya berkali-kalihingga
sampai pada tujuannya. Salah satu contoh. Mereka bergelayutan diatas pohon lantas jatuh kemudian mengulangi lagi usahanya untuk naikdan jatuh lagi, begitu seterusnya hingga dia berhasil naik ke ataspohon dan memperoleh apa yang mereka kehendaki.

Ibnu Hajar As Qalani, karena tidak dapat mengikuti pelajaran di “Sekolah Dasar ” maka oleh tim pengajarnya, terpaksa dikeluarkan darisekolah. Tapi anak ini tidak putus asa. Ketika ia berada di tepipantai, ia melihat ada seekor semut yang menaiki sebatang lidi. Sebelumsampai ke ujungnya, semut itu terjatuh. Kemudian naik lagi, dan jatuhlagi. Tapi setelah berkali-kali dilakukannya, akhirnya si semut ituberhasil juga mencapai ujung lidi itu. Kemudian ia segera kembalimenemui gurunya dan menceritakan pengalamannya. Oleh dewan guru iaditerima kembali sebagai ” percobaan “. Masya Allah, dengan semangatsemut tersebut, akhirnya sejarah mencatat, As Qalani menjadi ulamaterkenal yang disegani, menulis berbagai kitab tebal-tebal yang namanyadikenal dengan panggilan Ibnu Hajar As Qalani. Bukankah ada pepatahCina yang mengatakan : ” Dengan ketekunan dan kerja keras, besibatangpun bila digosok terus menerus bisa menjadi sebatang jarum”.

Kalau mau belajar ikhlas, simaklah bebek. Setelah bertelur makatelurnya yang besar-besar itu, ia tinggalkan begitu saja, terserahsiapa yang mau mengambilnya. Mereka tidak peduli lagi. Dan bebektermasuk binatang yang patuh kepada pimpinan. Tengoklah ketika merekaberenang, Selalu dalam satu barisan, dan mengikuti kemana saja sangpemimpin.

Dalam hal ketahanan berpuasa dan kiat mendidik anak serta kedisiplinanbangun subuh, kita perlu belajar dari ayam. Ketika mengerami telurnya,sang induk ayam sanggup tidak makan dan beranjak dari tempatnya selamatiga minggu. Pada saat telurnya menetas menjadi anak-anak ayam, sanginduk mendidik mereka untuk sanggup hidup mandiri. Setelah dianggapmampu mencari makan sendiri, baru hubungan dengan anak-anaknya dilepas.Dan ketika menjelang waktu subuh, semua ayam jantan berkokok untukmembangunkan manusia melaksanakan salat subuh. Karena itu RasulullahSAW. bersabda : ” Jangan kamu memaki ayam jantan yang berkokok, karenamereka membangunkan kamu untuk salat.”

Kambing adalah binatang yang sportif. Kalau dia tidak senang, dia “ungkapkan ” secara terus terang. Karena itu kita tidak pernah melihatkambing menanduk dari bagian belakang lawannya.
Kerbau, hewan yang satu ini walaupun dungu, tapi senang berzikir danrajin bekerja serta sangat patuh. Sepanjang hari dan malam mulutnyatidak berhenti bergerak, sebagai pertanda zikirnya. Ketika diajakmembajak sawah, tidak pernah menuntut upah dan berkomentar macam-macam. Bahkan ketika dibawa ke tempat pemotongan hewan pun ia menurut saja danpasrah. @
Oleh: Uti Konsen.U.M.

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: