Negeri Wayang

Negara ini tidak ada salahnya kalau disebut juga sebagai Negeri Wayang, karena hampir semua (99,99 %) yang namanya Pejabat Negara, Pusat, daerah sampai Kabupaten Kota maupun yang sangat terpincil di Desa atau Dusun berperilaku persis dengan wayang. Dan kalau mau diperinci lagi maka sifat atau krakter wayang ini dibedakan menjadi Wayang Orang, Wayang Golek, Wayang Kulit dan Wayang Perunggu.

Rakyatnya adalah penonton pertunjukan wayang terbesar di Dunia yang diperkirakan 200 juta lebih (termasuk penulis)  dikurangi sedikit (para pejabat), jadi masih mengalahkan pemirsa TV Nasional dan Swasta di Indonesia.

Coba simak berita – berita dibawah ini:

Pada Jaman dahulu kala, jauh sebelum perang BarataYuda, Konon …Pimpinan rapat paripurna “Para Kurawa” , mempersilakan kepada Menteri Dorna sebagai wakil pemerintah Dratista (Sebenarnya Raja Dratista yang diundang , hanya saja Raja yang satu ini Buta maka selalu mewakilkan kepada bawahannya ) untuk menyampaikan sambutannya, tetapi apa yang terjadi ???, sala-satu kurawa yang namanya Kurcaci meminta Menteri Dorna untuk turun dari Podium sebelum sang Menteri menyampaikan Pidatonya. Karena Menteri Dorna adalah tokoh wayang perunggu dengan perilaku tebal muka, maka tetap saja menyampaikan pidatonya
Dalam kesempatan tersebut Menteri dorna juga mengeluarkan statemen bahwa Keputusan Dewan Rakyat NgaYog baru2 ini tidak ada hubungannya dengan rencangan undang2 keistimewaan NgaYog….
“lho wong .. keputusan dewan rakyat ngayog  itukan aspirasi yakyat ngayog untuk antisipasi…gi..tu lho” kata kurcicak.
“Kagak tau sejarah kalii !!” sambung kurcaco, ” dasar wayang perunggu ” sela kurcici… ha… ha  riauh tawa para kurawa dan tepuk tangan para pemirsa.

Kurcaco adalah anak turunan kerajaan Medang pada zaman pra sejarah (konon khabarnya bahwa Yogyakarta sangat erat kaitannya dengan kerajaan Medang ) , sedangkan Kurcici adalah Nenek Moyang Mpu ahli perwayangan,

Baru2 ini ada polemik antara Demokrasi dengan Monarki, kemudian timbulah tanggapan macam2 ditambah dengan bumbu2 politik maka jadilah berita hangat megalahkan berita musibah bencana alam akibat gunung merapi maupun Tsunami

Menurut penulis bahwa berita wayang tersebut seharusnya tidak perlu ada, baik yang mengeluarkan pernyataan atau yang menginterpretasinya maupun yang menambah bumbu penyedap , anggaplah angin lalu saja , kalau tidak mau dicap sebagai mahluk yang krusial alias pengacau dan asbun (asal bunyi).

Demokrasi dalam arti sebenarnya , ada di DI Yogyakarta, dibandingkan di Provinsi lainnya yang ada mirip -mirip Demo(krasi) Anarkis.
Pada suatu waktu di Yogyakarta, terjadi pertikaian berdarah antara 2 suku dari Negri timur , kemudian sebagai Gubernur DI Yogya , Sri Sultan turun sendiri memanggil kedua kelompok suku yang bertikai tersebut dan Kata Sultan ” Apabila kedua suku mau melanjutkan pertikaian , silahkan keluar dari wilayah DI Yogyakarta alias pulang kampung, tetapi kalau mau berdamai mari kita bicarakan , yang salah tetap salah dan harus meminta maaf kepada yang benar dan yang benar harus memaaf kan yang salah, dan kelompok kamu berdua dapat melanjutkan tinggal disini” .
Sri Sultan sebagai penerus tahta kesultanan dapat saja menerapkan Hukum2 sistem Monarki kepada kedua suku tersebut, tetapi belaiu tidak menerapkannya , malah justru menerapkan sistem kepemimpinan Nabi Muhammad SAW  dalam menegakan Demokrasi , kalau benar menyatakan benar , kalau salah ya… salah… tidak ada unsur “Politik” ,  tidak peduli apakah terhadap golongan tertindas atau minoritas..tidak memplintir–alasan.

Kalau mau jujur ,para pejabat (kalau tidak mau disebut pejawat wayang) , seharusnya menohok atau menilik propinsi lain. Banyak sekali bermunculan raja-raja kecil yang dipilih dengan Slogan Demokrasi , tetapi setelah menjabat menerapkan sistem pemerintahan Monarki , ibarat “Kata kata Raja (Bupati dan lain sebagainya) dalah Hukum, Aturan walaupun tidak tertulis” mereka setelah menjabat  mengingkarai janji-janjinya (janji wayang) setelah terpilih

Lebih bijaksana lagi kalau sang pejabat tersebut menunjuk  ” DI Yogyakarta ” sebagai daerah percontohan , bahwa DIY sejak NKRI sampai sekarang,  Gubernurnya diangkat tidak melalui pemilihan, didalamnya berdiri kokoh suatu kesultanan tetapi pemerintahannya menganut sistem Demokrasi yang sebenar-benarnya demokrasi.

Penulis bukanlah seorang ahli tata negara , tetapi menurutnya bahwa salah satu Demokrasi model wayang yaitu keputusan yang diambil secara pemilihan apalagi dengan langsung suara terbanyak…
Penulis tidak pernah menjumpai kalimat dalam UUD 1945 bahwa penetapan atau sejenisnya harus melalui Proses Pemilihan , karena memang tidak pernah membacanya apalagi menghafalnya,  yang ada yaitu keputusan atau penetapan diambil berdasarkan musyawarah dan mufakat dan kalau keduanya tidak dapat dipenuhi barulah dilakukan secara pemilihan…suara terbanyak…
Era sekarang pemilihan / penetapan “Suara terbanyak” selalu ditunggangi Politik plus (uang, Janji, kecurangan ,dan lain lain) dan “Musyawarah” ,  “Mufakat”  adalah dua kata yang akan melegenda , seperti nasib temannya “Gotong Royong” (Dan kalimat yang sudah lama menjadi bahasa wayang yaitu ” Masyarakat Adil dan Makmur” )
Percaya atau tidak, bahwa sidang untuk musyawarah dan mufakat” jauh labih sedikit dibandingkan dengan sidang untuk membicarakan perbedaan / pendapat masing Fraksi, malah pernah ada yang mengatakan kalau pembahasan untuk mencapai musyawarah dan mufakat tidak perlu sidang, sukup telefon atau SMS saja, tetapi kalau sidang apalagi yang disiarkan langsung , maka kurang seru kalau tidak ada perbedaan pendapat, malah kalau perlu perbedaan pendapatnya dibuat-buat seperti waktu sidang paripurna yang menghasilkan Opsi A, Obsi B dan Bukan kedua2nya , yang diada-adakan pendapat ke empat yaitu yang setuju dengan Obsi A dan Opsi B… jadi ala sinetron wayang yang diatur oleh dalangnya saja…

Karena Negeri ini telah dikuasai oleh para pewayang maka tidaklah menutup kemungkinan bahwa Sri Sultan akan membawa Yogyakarta untuk mencari NKRI yang telah hilang….. mudah2an ini hanyalah sebuah dagelan dan dalangnya  karena kecapaian akhirnya tertidur dan para pemirsa juga tertidur dan mimpi di Negeri Wayang. 

            

Tag: , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Negeri Wayang”

  1. gunawan Says:

    ngak bisa bayangin tulisan gw mirip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: