Bangsa Beradab

Bangsa Beradab
Amat kita sayangkan, sesuatu yang pernah terjadi di Tarakan, Kalimantan Timur ,konflik yang memancing sentimen etnis. Padahal asalmuasalnya hanyalah insiden kriminal biasa, tidak ada latar belakang sentimen etnis.
Dua kelompok etnis kembali pasang kuda-kuda siap-siap  bertarung. Peristiwa pahit di Sampit beberapa tahun silam hampir saja terulang kembali.
Kita bersyukur keadaan mereda. Melalui berbagai pendekatan, kedua kelompok mulai dapat ditenangkan. Harapan kita semoga keadaan benar-benar kembali dingin dan pulih sebagaimana sedia kala.
Dalam keadaan seperti itu, sepantasnyalah kita masingmasing berinisiatif saling menyadarkan satu dengan yang lain. Bukan sebaliknya, justru saling memanaskan keadaan dan membangkit-bangkitkan sentimen kesukuan.
Mari kita terus saling mengajak untuk menjadi bangsa yang beradab, sebab hanya bangsa yang beradab yang bisa  menciptakan suasana kehidupan yang damai dan tenteram.
Masyarakat beradab adalah masyarakat yang di dalamnya terejawantahkan nilai-nilai keadaban manusia. Masyarakat yang demikian itulah yang mampu membangun peradaban dan menjadi pusat perhatian bangsa lain.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana mungkin masyarakat beradab bisa dibangun, bila masyarakat itu sendiri amat rentan terhadap isu yang memancing terjadinya konflik.
Menjadi masyarakat beradab haruslah pertama-tama memiliki modal kemampuan untuk selalu bisa menggunakan akal sehat. Sebab dengan akal sehatlah bisa ditimbang dengan baik setiap sikap yang akan diambil untuk merespons keadaan yang terjadi. Dengan akal sehat pula, masyarakat bisa selalu menduduksoalkan setiap permasalahan yang dihadapi dan menyikapinya secara relevan dan proporsional. Dengan akal sehat pula, masyarakat bisa mencegah terjadinya sikap destruktif akibat luapan emosi massa yang bertindak anarkis.
Karena itu, membiasakan diri menggunakan akal sehat dalam merespons keadaan yang terjadi merupakan sebuah latihan bersama yang amat penting untuk kita lakukan sebagai warga masyarakat. Kita harus dengan sadar selalu melatih hal itu dan dengan rasa tanggung jawab kita selalu saling memotivasi untuk itu, terutama apabila terjadi insiden yang tidak diinginkan bersama, seperti yang terjadi di Tarakan.
Kejadian semacam itu apabila dibiarkan berlangsung dan tidak dihadapi dengan menggunakan akal sehat kita, tetapi dengan emosi dan gengsi primordial kita, maka pastilah terjadi eskalasi, yang kemudian akibatnya menjadi kerugian bersama. Yang terjadi adalah seperti kata pepatah, kalah jadi abu menang jadi arang.
Marilah kita belajar dari banyak pengalaman pahit kita dalam beberapa tahun terakhir ini. Betapa banyak konflik berdarah yang terjadi, yang sekarang tinggal menjadi sesal kita bersama. Konflik Ambon, Poso, Sampit, adalah luka sejarah yang walaupun sudah mengering namun meninggalkan cacat yang amat disayangkan. Butuh waktu yang amat lama untuk bisa benar-benar memulihkannya.
Kendati demikian, marilah kita menjadikan peristiwaperistiwa itu sebagai pelajaran sejarah yang amat mahal dan sudah cukup. Tidak usahlah ditambah lagi. Sekarang saatnya kita benar-benar sadar dan bangkit bersama dengan semangat yang sama membangun diri menjadi masyarakat beradab, bukan masyarakat biadab. Mari bahu-membahu melakukan hal itu. Kita harus yakin bisa melakukannya. Kita bisa menjadi bangsa besar yang beradab, yang disegani dan dihormati oleh dunia.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: