Kaum Buruh

Pada tanggal, 1 Mei 2010, hari buruh internasional. Selama Orde Baru (orba) atau sejauh ini, hari buruh internasional kurang dirayakan atau bahkan tak dirayakan di Indonesia atau dirayakan dengan malu-malu dan rasa gamang karena dihubung-hubungkan dengan komunisme.

Padahal, kaum buruh, termasuk kaum buruh Indonesia, berkewajiban untuk memperjuangkan hak hidupnya sebagai buruh. Ritual perayaan kaum buruh Indonesia dapat diikutsertakan dalam hari buruh internasional tanpa harus dikait-kaitkan dengan komunisme,

baik sebagai sebuah aliran filsafat sosial, maupun sebagai sebuah ideologi perjuangan oleh partai-partai komunis sedunia yang semakin hancur berantakan karena semakin terasa usangnya paham komunisme dalam konteks Marxisme-Leninisme.

Nasib kaum buruh di tanah air memang sungguh malang. Yang dikembangkan hanyalah idiom yang memberi citra lebih baik bagi kaum ini. Istilah (idiom) kuli diubah menjadi buruh kasar, buruh, pekerja kasar, pekerja, dan karyawan. Namun, perubahan nama tidak mampu mengubah nasib kaum buruh atau kaum pekerja.

Meskipun mereka berserikat dalam partai buruh atau partai dengan nama lain yang memperjuangkan nasib buruh ( labourer), perjuangannya belum mampu menunjukkan hasil yang berarti yang boleh disandang nasibnya.

Nasib buruh, pekerja, dan karyawan belum beranjak jauh dari kualitas nasib kuli tempo doeloe yang sangat dikritik oleh Bung Karno di samping buruh berdasi dan berjas yang berwatak serta bertampang kapitalis dengan mencatut nama buruh.

Jika kaum buruh berhak hidup, maka hak hidupnya harus dilindungi oleh pemerintah bersama masyarakat dengan meluangkan kesempatan seluasnya bagi mereka untuk menjalankan kewajibannya demi perolehan hak hidup yang layak sebagai warga terhormat di republik.

Betapa perjuangan mereka untuk memperbaiki kualitas hidupnya bersama keluarganya tersendat-sendat oleh percaturan politik yang cenderung sianre balle atau homo homini lupus dengan saling memangsa, terutama memangsa yang dianggap lawan. Seharusnya pemerintah bersama badan-badan usaha kemasyarakatan membuka lapangan kerja yang dapat menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja kaum buruh.

Daripada hanya dicelah kualitas kerja kaum buruh, lebih baik dibuka ruang luas bagi pelatihan jenis keahlian dan keterampilan yang dituntut dari kaum buruh oleh badan usaha pemerintah atau kemasyarakatan (swasta).

Sistem upah atau penggajian yang layak dan berkeadilan patut ditegakkan sebagai bagian integral dari usaha pencerdasarn dan pensejahteraan bangsa. Kegagalan pemerintah di dalam pensejahteraan kaum buruh sama dengan kegagalan di dalam memenunhi amanah UUD ’45.

Harus diakui bahwa selama ini kaum buruh cenderung dimanfaatkan oleh berbagai pihak sebagai massa pendukung kekuasaan yang hendak direbut. Sesudah kekuasaan berada di tangan, kaum buruhpun dilupakan atau disisihkan. (***)

Tag:

Satu Tanggapan to “Kaum Buruh”

  1. Choerulany Says:

    Kaum buruh merasa tidak di perhatikan,kami merasa hidup di negri sendiri bagai hidup di negri asing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: