Kekuasaan yang hilang

Pemerintah, Satpop PP, Masyarakat, Rakus , Kekuasaan, Rusuh, Anarki menjadi satu  dalam satu nusa dan satu bangsa.

Medio Mei 2010, telah terjadi anarkisme dalam arti yang sesunggunya yang memuncak pada hari Rabu, 14 April, di Koja, wilayah Tanjung Priok , Jakarta Utara. Massa yang marah dan kecewa, karena merasa tak diperlakukan secara manusiawi dan adil oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparat kepolisian yang bertindak represif atas nama pemerintah, mengamuk tanpa kendali.

Mereka balas menyerang Satpol PP yang didukung aparat kepolisian. Massa berhasil membakar sejumlah mobil polisi dan truk pengangkut para Satpol PP yang berlarian menyelamatkan diri di balik tembok pelabuhan peti kemas milik Pelindo.

Keleluasaan massa yang mengamuk, merusak, dan membakar tanpa kehadiran aparat kepolisian, sebagai penegak hukum dan ketertiban masyarakat yang merepresentasi kehadiran pemerintah,memberi yustifikasi tentang adanya suasana anarkhis atau suasana tanpa adanya peranan nyata dari kekuasaan.

Bukankah kekuasaanlah yang harus didayagunakan oleh pemerintah yang dalam kasus Koja, diwakili Satpol PP dan aparat kepolisian, untuk menertibkan masyarakat agar menaati hukum? Bukankah pemerintah, yang mengendali kekuasaan melalui peran aparat kepolisian, harus memberi keteladanan tentang sadar hukum dan taat hukum dengan mengayomi masyarakat secara adil dan manusiawi sehingga tak bersikap dan bertindak anarkhis? Guru kencing berdiri, murid mengencingi guru, kata penyair nasional Taufiq Ismail.

Jadi massa juga bertindak anarkhis sebagai reaksi meniru langsung sikap dan tindakan represif Satpol PP bersama aparat kepolisian. Apa yang ditanam, itu pulalah yang dituai, yang menebar angin, dialah yang menuai badai.

Peristiwa Koja, hanyalah sebuah riak di tengah gelombang dan badai nasional yang sedang menimpa nasib bangsa ini. Keadaan komunitas Koja yang kecil di wilayah Tanjung Priok yang dilanda kerusuhan sesungguhnya adalah cermin objektif dari kondisi bangsa dan negara kita saat ini.

Merajalelanya kejahatan korupsi yang dilakukan oleh para elite dan kaum koruptor kakap di seluruh jajaran pemerintahan secara vertikal dan horizontal, khususnya kejahatan para pejabat negara dan elite di dunia perbankan dan perpajakan, mengisyaratkan kurang atau semakin tidak berfungsinya kekuasaan atau pemerintahan yang dikelola oleh elite penguasa.

Jika keadaan suram ini terus-menerus mengelam dan semakin sulit diatasi, maka suasana kehidupan para warga yang seharusnya sejahtera akan semakin hampa dari efektivitas pengelolaan kekuasaan oleh pemerintah, terutama oleh pemerintah pusat.

Jika masyarakat sudah tidak dapat merasakan efektivitas kekuasaan, baik kekuasaan di daerah, maupun kekuasaan nasional yang berpusat di Jakarta, maka secara alamiah akan timbul resistensi oleh masyarakat dalam wujud unjuk rasa yang terbuka, berani, dan melanggar hukum dan tata tertib.

Sesungguhnya di balik resistensi yang menunjukkan wajah beringas, ada dambaan masyarakat akan adanya pengayoman dan suasana kepemimpinan nasional yang bersih, kuat, efektif, dan yang benar-benar bernyali.

Nyali kekuasaan harus menampakkan wujudnya dalam sikap dan tindakan yang tegas, cepat, dan jitu untuk menyelesaikan masalah perbankan dan perpajakan, khususnya skandal Bank Century, dan masalah perpajakan yang melibatkan institusi kepolisian, kejaksaan, peradilan, dan pengacara yang terikat di dalam suatu sindikasi yang sedang populer dengan isu markus atau makelar kasus.

Jika pengelolaan kekuasaan atau penyelenggaraan pemerintahan tak menghasilkan kehidupan yang dirasakan adil dan sejahtera oleh rakyat, maka resistensi dalam wujud berbagai tindakan anarkis akan berulang dan mustahil dapat diatasi atau dibasmi dengan tindakan represif. Tindakan represif hanya akan membuahkan suasana kaos dan anarkis yang akhirnya memperanakkan peristiwa Koja yang beragam-ragam secara menyebar. (@)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: