Orang Gila dan Koruptor

Seorang pria berbaju kumal, badannya dekil, rambutnya panjang awut-awutan, memanggul segala macam bawaan, tiap hari berjalan tidak tentu arah. Ia selalu mengoceh sendiri, bicara sendiri dan tertawa sendiri. Tapi ketika ia mengoceh atau tertawa seolah-olah dia sedang berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan ia sering amat serius bicara, seperti orang berpidato sambil mengacungacungkan telunjuk.
Orang banyak yang menyaksikan ulahnya mafhum belaka. Ah orang gila, tidak ada yang aneh, kata mereka. Orang gila memang begitu. Pikirannya tidak waras. Karena itu tidak bisa digunakan ukuran orang waras untuk menilainya. Standar moral dan hukum tidak berlaku untuknya. Kalau ia melanggar aturan ia tidak bisa dihukum. Kalau ia mengambil seenaknya milik orang lain ia tidak perlu berurusan dengan penegak hukum. Namanya saja orang gila. Paling tinggi, kalau mengganggu ia dibawa ke rumah sakit jiwa. Begitulah hidup orang gila itu. Dari hari ke hari kerjanya berjalan tidak tentu arah. Ia memang tidak punya tujuan. Di mana ia kemalaman dan merasa capek, di situ dia berhenti dan tidur. Ia tidur beralas tanah beratap langit. Yang menarik perhatian, orang gila itu juga membawa bermacam-macam bawaan yang orang waras tidak tahu untuk apa semua barang itu dia kumpulkan dan memanggulnya ke sana ke mari. Tapi namanya orang gila, ya begitulah keadaannya. Semua orang maklum adanya. Tapi tunggu dulu, dalam bentuknya yang lain, dalam hidup ini kita juga menyaksikan lebih banyak lagi orang yang menjalani hidupnya, juga tanpa tujuan yang jelas. Ia terus saja berputar-putar dalam lingkaran kehidupan yang itu-itu juga, dan mencari serta mengumpul bermacam-macam yang diingininya. Semakin bertambah yang bisa ia kumpulkan semakin bersemangat ia ingin terus menambahnya. Semua yang ia kumpulkan lalu menjadi beban yang ia pikul ke sana kemari. Padahal di antara sekian banyak barang yang dia pikul itu, hanya sedikit yang benar-benar merupakan kebutuhannya. Maka menjadilah ia orang yang setiap hari kerjanya berjalan tanpa tujuan, memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dia pikul. Kalau cerita orang yang pertama adalah orang gila, ulahnya seperti itu, kita mafhum. Tapi kalau orang yang kedua bagaimana

Tag: ,

Satu Tanggapan to “Orang Gila dan Koruptor”

  1. Choerulany Says:

    Orang gila…? Itu kata orang waras.. Bagi dia biasa2 aja,dan ia merasa tidak gila..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: