Drama Pansus ala Sinetron

Drama Pansus adalah judul sinetron politik dengan masa tayang kurang lebih 60 hari
KETIKA publik menyaksikan palagan politik Pansus Bank Century di DPR-RI, ibarat kita disuguhi adegan drama apik dan pesona dengan bahasa simbol yang diperankan aktor politik.

Begitu heroik dan dramatis pengungkapan kasus Bank Century, maka aktor yang ditampilkan tak hanya anggota Pansus dari partai politik tapi juga aktor politik kawakan. Ada Boediono, Jusuf Kalla, Sri Mulyani, tak ketinggalan pula sosok antagonistik, dan sarkastik, “raja minyak” Ruhut Sitompul.

Sidang Pansus yang disiarkan secara langsung beberapa TV swasta, publik telah dipertontonkan betapa masalah Bank Century digerakkan secara “spionase” untuk merampok uang nasabah. Pemilik Bank Century, Robert Tantular, tidak hanya merampok uangnya sendiri tapi juga ada dugaan kucuran dana mengalir ke oknum dan partai tertentu peserta Pemilu 2009.

Bahkan, anggota Pansus DPR-RI yang sementara melakukan investigasi fakta di lapangan, berusaha mengungkap siapa sebenarnya sutradara di balik layar perampokan uang nasabah. Apakah itu pemilik bank, gubernur BI, Menteri Keuangan, ataukah ada aktor tersembunyi yang mengontrol jalannya aliran dana?

Dalam kaitan kasus Bank Century yang sementara menghiasi agenda media dan publik, ada baiknya kasus tersebut dillihat dari sudut pandang dramatisme. Untuk kajian dramatisme, asumsi dasarnya adalah kaum dramaturgis memandang manusia sebagai actor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran mereka.

Lebih rinci, Erving Goffman dalam Littlejhon (2002) mengungkapkan bahwa dalam menganalisis tingkah laku manusia dengan sebuah metafora teaterikal, di mana aktor yang ada di atas panggung menyusun performa dan memberi kesan kepada publik.

Para aktor politik di Pansus DPR-RI yang menjadi tokoh kunci dalam membongkar dalang Bank Century sangat ditentukan orang yang memainkan peran. Jika ada sinyalemen bahwa akhir dari dramatisme pengungkapan Bank Century berakhir pada proses politik pemakzulan atau reshuffle kabinet, maka hal tersebut sangat ditentukan lobi politik yang berada di Pansus DPR-RI.

Apalagi kesimpulan sementara temuan Pansus, Partai Demokrat merasa terdesak dan hanya didukung PKB, sementara partai koalisi lainya satu suara dengan Partai Golkar, Hanura, dan PDIP.

Lebih menarik lagi, wacana terlontar di panggung politik Bank Century, Partai Golkar menyebutkan dana Century mengalir ke SBY-Boediono. Bahkan politikus muda asal Sulsel, Akbar Faizal menyebutkan bahwa Amiruddin Rustan yang mendapat kucuran dana merupakan penyumbang SBY-Boediono pada Pilpres.

Tajamnya efek kontestasi elite politik dalam sengketa naskah drama Bank Century sehingga Bung Ical sebagai ketua umum Golkar di mana fraksinya di Pansus cukup vokal dengan menyimpulkan sementara ada 59 indikasi pelanggaran Bank Century. Munculnya pernyataan SBY mengenai tunggakan pajak yang dialamatkan kepada Ical dianggap bermuatan politis. Termasuk ancaman Partai Demokrat untuk me-reshuffle kabinet kepada Presiden RI dianggap politik tawar menawar (bargaining position).

Sejatinya, seluruh rangkaian pementasan kasus Bank Century dari perspektif dramaturgi dalam bentuk teaterikal politik yang content-nya perseteruan antarelite, wacana ancaman, aktor antagonistik, praktik perampokan, nasabah yang dirugikan, ada dusta di antara pelaku panggung, rekening fiktif, desepsi informasi untuk mempertahankan kursi kekuasaan, manipulasi informasi, bandit-bandit politik, dan kekarnya aura kekuasaan. Penggalan pesan politik dramaturgi yang ditampilkan selama ini di palagan Century mengindikasikann bahwa uang dan kekuasaan bila bersatu akan cenderung melakukan tindakan koruptif.

Hal tersebut diatas hanyalah dugaan dan jalan ceritanya dibuat sedemikian rupa agar membuktikan bahwa dugaan2 itu tidaklah benar dengan ukuran  standar politik  (kalau tidak demikian , bukan sinetron namanya) dan akhirnya waktu jua yang melupakannya 

Akhirnya, publik yang menonton episode Bank Century, menikmati suguhan akrobat entertainment politik, di mana pelaku panggungnya menunjukkan karakter simbolik. Sehingga ada aktor yang memainkan perannya berpura-pura dan sengaja membohongi kata hati nuraninya. Termasuk ada juga aktor politik menggunakan bahasa sebagai wacana perlawanan untuk membela partainya. Maju tak gentar membela yang salah? Itulah panggung sandiwara politik Bank Century! (**)

Apakah hanya sampai disitu saja????, tidak…lah..nantikan eisode berikutnya ..yang lebih seru !!!, karena menambah pemasukan bagi yang yang berkepentingan … atau paling-paling mengalihkan persoalan / permasalahan agar episode sebelumnya terkubur tanpa kubur…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: